Ulama NU, Arsitek Tradisi Halal Bi Halal Dan Kupatan

SyariahCenter.com – Sudah banyak dari kalangan umat Islam yang menikmati acara halal bihalal. Kegiatan ini telah berlangsung menjadi tradisi syawalan pasca bulan ramadlan. Dalam kegiatan ini, setelah peserta menikmati beberapa ceramah para tokoh atau ulama dilanjutkan dengan acara makan makan yang sudah dihidangkan.

Hidangan acara halal bihalal lebih mewah dibandingkan dengan bentuk kegiatan kupatan. Acara kupatan hanya diisi dengan menikmati nasi kupat dan jenis sayur kupat. Acara halal bihalal berlangsung dengan kue dan makanan yang penuh dengan berbagai hidangan lezat. Selain itu, antara halal bi halal dan kupatan sama sama memiliki latar belakang kesejarahan yang berbeda. Meskipun demikian keduanya dari hasil arsitektur Ulama Nusantara yang sekarang ini masih di pertahankan dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU).

Sejak kemunculan kedua istilah ini, penulis belum membaca tulisan yang menjelaskan relevansi kedua istilah ini. Bersamaan dengan kegiatan syawalan, istilah halal bihalal, telah digunakan banyak instansi, keluarga, dan masyarakat.

Sebelum penulis memaparkan istilah halal bi halal relevansinya dengan kupatan, perlu kiranya disampaikan asal usul halal bi halal. Asal usul halal bi halal sudah masyhur di lingkungan pesantren, yaitu bermula dari kegiatan rekonsiliasi nasional yang digagas oleh KH. Wahab Hasbullah. Selain itu, penulis juga mendapatkan Whatsapp dari GROUP PCNU BOGOR, dari sumber tulisan KH. Masdar Farid Masudi. Dalam COPAS ini, juga mengkisahkan kegelisahan Ir. Soekarno yang disampaikan kepada Kiai Wahab tentang konflik komunal nasional di Indonesia pasca kemerdekaan.

Dalam konteks tradisi, kegiatan syawalan yang diisi dengan cara sungkem kedua orang tua atau mereka yang dianggap tua, sudah berlangsung sejak abad 15. Pada abad ini, Walisongo mengisi syawalan dengan menggunakan istilah halal bihalal. Secara filosofis, istilah halal bihalal merupakan bentuk pemberian kehalalan atau kelapangan sikap dari satu subjek ke subjek yang lain atau sebaliknya.

Selanjutnya >>
(Visited 154 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *