Pemuda Kristiani Taat Menjadi Muslim Setelah Membaca Buku

Syariahcenter.com – “Kamu, Muslim?” Tapi, asalmu darimana?”

Pertanyaan tersebut selalu muncul ketika melihat sosok Jeremy Spencer yang berkulit putih, namun melaksanakan shalat di ruang publik. Spencer memang baru menjadi Muslim medio tahun 2009.

Pria asal Maryland, Amerika Serikat ini pun diberondong dengan pertanyaan berikutnya. “Oke, tapi darimana asal orangtuamu?”

Mereka makin penasaran karena ada asumsi bahwa umat Islam pastilah mempunyai keterkaitan dengan Arab. Sedangkan orang berkulit putih pastilah seorang Kristiani, Yahudi, maupun atheis.

Spencer dibesarkan di tengah keluarga Kristiani yang konservatif. Sehingga Spencer sedari kecil akrab dengan kegiatan-kegiatan sosial di gereja.

“Aku pergi ke gereja setiap pekan dan akrab dengan stereotipe anak Sekolah Minggu yang baik,” jelas Spencer dilansir dari thedeenshow.com, Senin (4/1).

Kegiatan religius yang membentuk kebatinan Spencer diuji saat ia masuk kuliah di sebuah universitas. Ia menemukan banyak varian jemaat Kristiani yang mempunyai prinsip-prinsip yang berbeda.

Nilai-nilai yang telah lama dipegang oleh Spencer juga hampir runtuh dalam diskusi-diskusi agama dalam kelas tentang Injil. Maka, pemuda berusia 16 tahun itu pun mempertanyakan kembali imannya.

Rasa penasarannya pun ia alihkan dengan banyak membaca di perpustakaan kampus. Ia bergelut dengan buku-buku tentang agama Yahudi, Hindu, Sikh, Buddha hingga paganisme hingga enam bulan lamanya.

“Setelah itu saya rasakan dengan membaca saja tak cukup karena tidak ada sosok nabi atau guru yang mampu memenuhi pertanyaan-pertanyaan dalam jiwa dan hati,” ujar Spencer.

Tak ayal, sejak November 2008 Spencer berganti agama dan kepercayaan setiap bulannya, mulai dari Zoroastrian, Buddha, Hindu, Yahudi, dan Jaini.

Kebiasaan Spencer itu diketahui segenap civitas akademika kampusnya. Seorang profesor pun memberikan sebuah nomor kontak pengurus masjid setempat. Ia pun menghubungi pengurus masjid tersebut.

Spencer merasa disambut dengan penuh kekeluargaan. “Saya tidak tahu sama sekali tentang Islam, apa yang harus dilakukan. Tapi, mereka bercerita dengan banyak humor sembari mengajarkan cara berwudhu dan shalat tanpa saya rasakan bahwa saya berbeda dengan mereka, kata Spencer.

Sepulang dari masjid, Spencer mengunduh mushaf Alquran dari internet beserta terjemahannya. Setelah membaca beberapa ayat, ia tersentuh dengan kenyataan bahwa Islam mengagungkan persamaan antarmanusia.

“Membaca dan mencari ilmu pengetahuan juga menjadi kewajiban setiap Muslim. Itu sebuah kejutan bagi saya,” jelas Spencer.

Berbekal hal-hal tersebut, Spencer pun memutuskan bersyahadat pada awal 2009 lalu. (lis)

(Visited 333 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *