Mengenal Dalia Mogahed, Tangan Kanan Obama

SyariahCenter.com – “Muslim sama seperti manusia lainnya. Kami ingin hidup dalam damai. Tak ada pengecualian,” ujar wanita berhijab. Suara itu tegas. Mengakhiri diskusi yang diikuti ratusan orang itu.

Semua orang berdiri seketika. Suasana menjadi riuh. Tepuk tangan membahana. Menggaung di sekujur aula itu. Semua mulut melontarkan pujian. Kagum dengan isi ceramah perempuan bernama Dalia Mogahed itu.

Pidatonya memang singkat. Tak lebih 20 menit. Namun kelihaian bicara wanita cerdas ini mampu menghipnotis semua orang. Mencerahkan. Menghapus persepsi miring tentang Muslim dan Islam.

Tak salah, jika dia terpilih menjadi penasihat Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Dia menjadi tangan kanan pemimpin Paman Sam di bidang dunia Islam. Dia menjadi salah satu potret muslimah sukses di Amerika Serikat.

Dalia bukanlah warga asli AS. Dia lahir di Kairo, Mesir. Namun Obama tak meragukan dedikasi Muslimah ini. Sehingga berani mengangkatnya menjadi penasihat pemerintahan.

Prestasi Dalia memang tak perlu diragukan lagi. Dia merupakan Presiden dan CEO Mogahed Consulting, sebuah lembaga konsultan tentang masyarakat muslim dan Timur Tengah yang berbasis di Washington DC.

Dia juga pernah menjabat sebagai analis senior sekaligus Direktur Eksekutif the Gallup Center, sebuah lembaga survei independen tersohor untuk kajian muslim. Karena keahlian-keahlian inilah perempuan Mesir ini ditunjuk menjadi penasihat Obama.

“Saya yakin saya ditunjuk karena riset yang saya pimpin di Gallup Center mengenai pendapat Muslim di dunia. Saya bukan bagian dari kampanye Obama atau aktif di Partai Demokrat. Saya dipilih berdasarkan pendidikan saya, bukan afiliasi politik,” kata Dalia.

Sebenarnya, Dalia tak punya latar belakang pendidikan ilmu sosial maupun politik. Perempuan yang kini berusia 40 tahun itu merupakan insinyur kimia lulusan Universitas Wisconsin. Sementara gelar MBA dia peroleh dari Universitas Pittsburgh.

Meski demikian, sebagai seorang muslimah, dia tahu bagaimana kehidupan pemeluk Islam. Dia juga kenal betul bagaimana masyarakat Timur Tengah. Pengetahuannya semakin bertambah dengan terlibat dalam berbagai penelitian tentang Islam.

Dalia menyadari, menjadi penasihat Obama bukanlah tanggung jawab mudah meski di sisi lain ia senang karena mendapat kesempatan untuk menyuarakan opini komunitas muslim yang seringkali masih terdiskriminasi.

“Ya, tentu ini tanggung jawab yang besar, tapi saya tidak mengklaim berbicara untuk setiap Muslim! Saya hanya ingin menyampaikan apa yang dipikirkan Muslim dengan menggunakan riset survei ilmiah,” kata dia.

“Dengan alat tersebut, kita bisa mengetahui apa yang sebagian besar orang pikirkan dan rasakan, mendengar suaranya dan memahami mereka. Tugas saya menyampaikan informasi ini kepada dunia,” tambah Dalia.

Sukses dengan Hijab

Menjadi muslimah berhijab pertama yang bergabung dalam tim penasihat Gedung Putih tak pernah terbayang di benak Dalia sebelumnya. Jalan karirnya mengalir begitu saja.

Ia memulai pekerjaan sebagai ahli teknik kimia, yang juga kerap menulis seputar isu-isu Timur Tengah. Dalia kemudian mendirikan organisasi untuk mengedukasi masyarakat di kawasan tempat tinggalnya. Satu hal yang pasti, isu internasional selalu menjadi hasratnya.

Setelah lulus, Dalia bergabung dalam penelitian Procter & Gamble mengenai konsumen. Ia takjub bisa mempelajari pandangan orang-orang dan mengubahnya menjadi gagasan produk.

Wanita Kairo itu lantas bergabung dengan Gallup Center. Ketika ada proyek riset di seluruh dunia, Dalia meminta direktur untuk membangun sebuah pusat penelitian muslim. Jalan ini kemudian membawanya pada kesempatan emas untuk mendapat posisi penting di Gedung Putih.

“Ketenaran saya adalah misteri bagi saya. Posisi saya di Gedung Putih merupakan kehormatan besar, namun pengaruh saya tidak sebesar yang disampaikan media,” kata Dalia.

Tak sekadar peluang besar untuk mewakili suara komunitas muslim Amerika Serikat, perlahan Dalia menyadari, kemunculannya dalam jajaran tim penasihat Gedung Putih menjadi inspirasi bagi banyak muslimah Amerika. Inilah yang kemudian dijadikannya motivasi untuk semakin membuktikan diri.

“Seorang perempuan muda datang dan mengatakan bahwa saya berhasil menunjukkan bahwa kesuksesan bisa diraih dengan hijab,” tandasnya.

Lebih Banyak Muslim di Gedung Putih

Isu terorisme hingga Islamophobia masih belum bisa dilepaskan dari publik Amerika Serikat. Namun keputusan Presiden Barack Obama untuk merekrut Dalia Mogahed dalam jajaran tim penasihatnya seolah menjadi angin segar bagi komunitas muslim Amerika.

Kehadiran Dalia dipercaya akan mampu mewakili opini kaum muslim Negeri Paman Sam yang sejauh ini masih sering tersisih. Tugas ini tak mudah, namun bagi Dahlia kesempatan ini menjadi momen terbaik untuk menunjukkan eksistensi umat Islam Amerika Serikat.

“Muslim Amerika adalah warga negara yang berkontribusi dan harus diwakili dalam proses keputusan sama seperti kelompok lain,” ujarnya.

Ke depannya, Dahlia berharap akan ada lebih banyak muslim seperti dirinya yang mengisi jajaran tim Gedung Putih dan posisi-posisi senior dalam pemerintahan Amerika Serikat. (feb)

(Visited 268 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *