Memahami Bahwa Allah Berada Di Langit

SyariahCenter.com – Kata “samaa” di dalam bahasa Arab menunjuk kepada tempat yang tinggi dan sulit untuk dijangkau. Di dalam bahasa Indonesia kata “samaa'” ini diterjemahkan menjadi langit.
Di dalam Fiqhul Lughah wa Asrar ul-Arabiyyah, dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan langit adalah:

كل ما علاك فاظلك فهو سماء

Semua yang berada di atas anda dan menaungi anda, itulah yang disebut langit (Abu Manshur Abdul Malik al-Tsa’alaby, hal.33)

Secara substansi, langit merupakan tempat yang tidak berbatas jika dilihat dari bumi.

Yang menarik di dalam Al-Qur’an disebut bahwa langit itu ada batasannya, yaitu tujuh lapis. Surat al-Isra ayat 44:

تسبح له السموات السبع والارض ومن فيهن

Selalu bertasbih kepada Allah, langit yang tujuh dan bumj beserta semua makhluk yang ada di dalamnya.

Jika dikatakan Allah bertempat di langit, yang menjadi pertanyaan di langit sebelah mana DIA berada? Sebab jika yang dimaksud dengan langit itu adalah tempat, tentu para pilot dan astronot sudah mendeteksi di mana keberadaan Allah.

Sanggahan tentang langit sebagai tempat pun, dapat dijumpai di dalam Al-Qur’an Surat al-Hadid ayat 4:

وهو معكم اينما كنتم

Dia berada bersama kalian, di mana saja kalian berada

Jika memang Allah bertempat di langit lalu kenapa Dia bisa berada di mana saja?

Sampai di sini, mazhab Asyairoh berkesimpulan bahwa sebenarnya Allah tidak membutuhkan tempat karena kebutuhan itu merupakan sifat melekat dari makhluk. Allah tidak butuh apapun bahkan kepada makhluk yang selalu memuja-Nya.

والله غني عن العالمين

Allah tidak butuh kepada makhluk

Kalimat “Allah di langit” seperti ucapan seorang sahabat di hadapan Nabi, sesungguhnya tidaklah menunjukkan tempat. Ucapan itu menunjukkan kepasrahan seorang hamba yang tidak tahu di mana Tuhannya berada.

Kalimat itu seperti menunjukkan sikap orang yang tidak mau pusing dengan segala bentuk materialisasi praktek peribadatan bangsa Arab yang waktu itu didominasi oleh paganisme.

Sebagai sebuah ungkapan, kalimat itu perlu dicerna konteks pembicaraannya. Di sinilah, tauhid menuntut intelektualitas orang yang meyakininya. Karena tauhid dan rasio saling berhimpit satu sama lain. Tauhid tidak bisa dipisahkan dari rasio. Begitu pula, rasio pun membutuhkan tauhid untuk mencapai keyakinannya.

Wallahu a’lam bis shawab

(Ust. Abdi Kurnia Djohan/ MMN)

(Visited 87 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *