Masuki Tahun 2016, BSM Akan Fokus ke Segmen Ritel

Syariahcenter.com, Jakarta – Bank Syariah Mandiri (BSM) pada tahun 2016 ini akan fokus pada segmen ritel. BSM menargetkan porsi segmen ritel bisa naik dua persen menjadi sekitar 58 persen dari target 65 persen di 2020.

Direktur Keuangan dan Strategi BSM, Agus Dwi Handaya mengatakan, proyeksi BSM di 2016 tidak jauh dari proyeksi Bank Indonesia dimana pertumbuhan sekitar 10-12 persen. Dengan aset Rp 60 triliun, tahun ini BSM menargetkan tambahan aset sekitar Rp 6 triliun.

Fokus bisnis BSM di 2016 tertuju pada segmen ritel yang porsinya akan dinaikkan dua persen menjadi sekitar 58 persen. Produk yang jadi fokus seperti cicil emas, pembiayaan mikro dan aneka pembiayaan berbasis payroll.

2015 lalu, porsi segmen ritel 56 persen dan korporasi 44 persen. Targetnya, pada 2020 segmen ritel akan punya porsi hingga 65 persen.

Untuk segmen korporasi, pasar BSM masih digarap bersama induk, Bank Mandiri. ”Selain perguruan tinggi dan rumah sakit, banyak juga korporasi nasabahnya Mandiri yang mau menggunakan pembiayaan syariah,” kata Agus Dwi baru-baru ini.

Model pembiayaannya masih sama seperti sebelumnya dimana Bank Mandiri memberi porsi pembiayaan syariah kepada BSM atas pembiayaan gabungan yang mereka lakukan. Apalagi, kata Agus Dwi, Bank Mandiri lebih kompeten untuk menganalisis korporasi.

Dari segi dana, BSM akan menggiatkan tabungan, terutama yang bersifat lokal, karena produk mereka banyak di sana. ”Selama ini tabungan belum terlalu terekspos. Nanti kami akan lebih banyak kerja sama ke komunitas,” ungkap Agus Dwi.

BSM memprediksi tabungan haji di 2016 pun masih akan bagus meski sekarang ada pergeseran ke umrah. BSM akan menggandeng PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan agen penyelenggara perjalanan umrah yag kredibel agar ada skim dan produk pembiayaan umrah yang lebih bagus, aman, dan kompetitif.

Direktur Utama BSM yang juga Ketua Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) Agus Sudiarto mengatakan secara umum industri tumbuh sekitar 4,6 persen di akhir 2015. Kondisi yang ada membuat perbankan syariah belum bisa tumbuh lebih dari itu karena konsolidasi.

Tapi di 2016 industri optimistis kondisi ekonomi lebih baik dari 2015 dengan proyeksi pertumbuhan 10-12 persen. ”Pangsa memang inginnya tembus lima persen dulu dan semoga bisa dilakukan dalam waktu dekat,” kata Agus.

Secara formal perbankan syariah Indonesia masih sangat muda, 23 tahun. Kontribusi dari sisi aset terhadap ekonomi nasional masih kecil. Tapi basis nasabahnya sudah 15 juta.

Pertumbuhan perbankan syariah tidak buru-buru karena regulator punya target dengan tetap menjaga kualitas. Dukungan pemerintah, kata Agus, sudah besar. Tapi memang butuh dukungan lintas bidang termasuk dari parlemen. (bar)

(Visited 228 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *