Kisah Perjuangan Wanita Yang Dibuang Keluarga Setelah Menjadi Muslimah

Syariahcenter.com – Juwita Karo Karo, owner sekaligus CEO Khanz Hijab Bogor mengaku dari kecil sudah merasakan ketentraman saat mendengarkan suara azan. Mualaf yang mengucapkan dua kalimat syahadat pada tahun 2008 lalu ini meyakini Islam adalah agama yang mampu memberikan rasa ketenteraman dalam hidupnya.

Dia berasal dari keluarga Kristen terpandang di Medan. Atas keputusannya tersebut, dia harus berpisah dengan keluarganya yang sudah tidak menerimanya sebagai bagian dari keluarga mereka. Hanya berbekal selembar pakaian dan sepasang sepatu yang melekat di badan tersebut, dia mengadu nasib ke Kota Bogor.

Dia sempat bertanya-tanya kepada warga sekitar untuk sekadar menanyakan tempat untuk bisa dia jadikan tempat tinggal sementara. Herannya, setiap orang akan langsung menghindar dan memandang dia seolah-olah sebagai pengemis yang meminta-minta.

“Saya benar-benar hampir putus asa,” katanya yang menceritakan usai acara Talkshow Studentpreneur di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Kamis (26/11).

Tahun pertamanya menjadi seorang Muslimah adalah masa-masa paling sulit yang pernah dia hadapi. Jika bukan karena iman yang telah menancap kuat dalam dadanya, mungkin dia sudah berputus asa dibuatnya.

Betapa tidak, dari kehidupan yang serba berkecukupan lalu jatuh terbanting hingga ke dasar. Bahkan untuk makan pun dia kesusahan.

Pada saat itu dia baru saja lulus SMA, sehingga dia ingin meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi.
Ketika sampai di Bogor, dia datang ke Universitas Ibnu Khaldun yang saat dia datang adalah hari terakhir pendaftaraan mahasiswa baru. Tanpa bekal apa pun, dia menghadap ke rektor yang saat itu dijabat Prof. Ramly Hutabarat dan memohon agar bisa diterima menjadi mahasiswa di sana.

Karena iba, sang rektor pun menerimanya, bahkan menawarkan beasiswa untuknya. Namun Juwita justru menolaknya, karena dia masih berprinsip tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Prinsip itu tertanam kuat sejak kecil yang diajarkan oleh kedua orang tuanya.

Konsekuensinya, dia harus berjuang sekuat tenaga agar bisa tetap bertahan hidup, sekaligus membayar tanggungan uang masuk kuliahnya yang saat itu sekitar Rp 6,5 juta. Berbagai usaha dia lakoni, hingga dia memutuskan untuk menjadi reseller gorengan yang dia jajakan di lingkungan kampus dan jalanan.

“Sampai seluruh dosen dan mahasiswa UIKA kenal dengan saya, bahkan saya ini dianggap tukang jualan gorengan, bukan mahasiswa UIKA,” katanya mengenang kisahnya tujuh tahun silam.

Dia menjajakan dagangannya tanpa merasa malu sedikit pun. Setiap hari, dia berangkat ke kampus pukul 07.00 menjajakan dagangannya, padahal kuliahnya dimulai pukul 09.00. Ketika kuliah pun dia juga menawarkan dagangannya kepada teman-teman kuliahnya.

Di tengah kesusahannya, Juwita Karo Karo merefleksikan hidupnya.

Sedari kecil, ia mengingat ada perasaan yang berbeda ketika dia mendengarkan lantunan azan yang berasal dari masjid dekat rumahnya. Perasaan itu selalu dirasakannya ketika azan berkumandang lima waktu. Rasa tentram dan ingin mendengarkannya dengan khidmat dari takbir pertama hingga kalimat laa illa ha illallah selalu dia rasakan.

Hingga suatu ketika dia yang diliputi rasa penasaran yang luar biasa, mengajukan pertanyaan yang aneh bagi keluarganya kepada ibunya.

“Ma, kenapa sih di gereja tidak ada azan?” katanya.

Bukan jawaban yang dia dapatkan, justru ibunya seolah melarang dia menanyakan hal itu lagi.

Juwita diam-diam mempelajari agama Islam. Dia yang berasal dari keluarga misionaris Kristiani taat sadar harus berhati-hati dalam mengambil tindakan itu.

Meskipun belum resmi bersyahadat, dia sudah belajar shalat. Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh jua. Suatu ketika ibunya mengetahui dia yang sedang memakai mukena dan mempelajari bacaan-bacaan shalat.

Dia diusir keluarganya dari rumah. Namun, keluarganya masih mengampuni dia dan akhirnya dia dijemput kembali. Ketika dijemput kedua orang tuanya, dia kembali harus memilih.

“Kamu lebih memilih keluarga apa memilih Islam? Kalau kamu memilih keluarga ayo kita pulang, tapi kalau tetap memilih Islam, jangan harap bisa kembali lagi ke rumah,” ujarnya saat menirukan kata-kata ibunya.

Karena iman yang sudah kuat, akhirnya dia memutuskan untuk memilih Islam dengan segala konsekuensi berat yang harus diterimanya.

Juwita seakan sudah kebal dengan kesulitan hidup.

Meskipun dia bekerja keras demi bisa bertahan hidup, dia juga tidak ingin ketinggalan pengalaman berharga sebagai aktivis mahasiswa. Dia mengikuti berbagai organisasi kampus seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), organisasi dakwah kampus, dan kegiatan lainnya.

Tidak hanya itu, prestadi akademik Juwita juga tidak bisa diremehkan. Karena dia meraih indeks prestasi kumulatif sempurna, yakni 4,00 di tengah kesibukannya berdagang dan berorganisasi.

Segala aktivitas yang penuh kerikil dan batu sandungan itu dia lakukan dengan penuh kesabaran. Seolah dia merasakan Allah SWT selalu dekat dengannya. Sehingga rasa tentram selalu dirasakannya meskipun kesulitan tak henti menimpa silih berganti.

Pada tahun 2011 dia lulus dari studi S1. Meskipun sedih karena tidak ada keluarga yang mendampingi wisudanya, banyak teman yang memberikan selamat kepadanya. Bahkan rektornya yang menerima dia menjadi mahasiswa UIKA melontarkan pesan khusus untuknya.

“Perjuangan belum selesai, Juwita,” kata Juwita yang menirukan ucapan rektornya ketika menyalaminya saat wisuda.

Ketika lulus kuliah dia sempat mendapatkan tawaran bekerja di salah satu bank syariah terkenal di Indonesia. Namun karena dia tidak ingin berkecimpung di dunia perbankan, dia menolak tawaran tersebut dan memilih untuk melanjutkan usahanya.

Usahanya semakin berkembang. Usaha fashion yang dia geluti semakin banyak pelanggan. Berbekal pemasaran via online kini dia sudah bisa menjual produknya sekitar 500 potong per harinya.

Dari mulanya hanya sebagai reseller kemudian iseng mencoba mendesain gamis-gamis, lalu mengajak satu penjahit dan sekaligus membantu pemasaran, kini dia sudah memiliki empat orang pekerja yang membantu di pemasaran dan pemotongan kain.

Selain itu, Khanz Hijab Bogor juga sudah memiliki banyak reseller yang terbesar di berbagai kota di seluruh Indonesia. Bahkan dia juga sudah pernah mengirimkan produknya ke Malaysia dan Hongkong.

Dengan prinsip belajar dari siapa pun, Juwita juga mempelajari para reseller yang awalnya hanya mampu membeli ratusan ribu produknya, hingga bisa membeli puluhan juta rupiah per harinya. Baginya hal itu penting untuk mempelajari pemasaran dan pangsa pasar usaha hijabnya itu. (feb/republika)

2 Komentar

  1. Nessie Rika DamaiYanti

    Saya mualaf dan saya dibuang oleh ibu saya.. Sangat sulit teman teman saya menjauhi saya bahkan saya sndiri skrg rasanya hampir tidak kuat. Ibu saya membuang saya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *