Kisah Para Mualaf Amerika Jalani Puasa Pertama Kalinya

SyariahCenter.com – Hari mulai beranjak senja. Tapi restoran di tengah kota Manhattan, New York itu masih sesak. Pramusaji bernampan di atas pundak silih hilir mudik. Membawa pesanan makan orang-orang yang sudah menunggu sabar.

Sekejap kemudian, dari balik kaca restoran, Rollo Romig melintas. Langkahnya gontai. Raut mukanya lesu. Tak sadar matanya terpikat menu-menu makanan yang tersaji di depan restoran. Sebuah menu lama pie lemon dan makanan dari bayam dari tahun 1936. Ada juga menu tahun 1957 berupa daging puyuh, panggang ikan todak, dan kelinci rebus.

Air liurnya menetes. Perutnya memang sedang keroncongan. Sudah hampir sebulan jurnalis freelance ini tak makan siang.

Bukan tak mampu membeli, Romig seorang muslim. Hari itu dia sedang berpuasa. Dia bukan muslim dari lahir. Baru empat tahun dia mengucap syahadat. Menyatakan ikhlas memeluk Islam. Menemami istrinya yang sudah lebih dulu jadi muslimah.

Empat tahun berselang, pengalaman itu masih diingatnya. Puasa pertama sebagai seorang mualaf. Romig memang belum sempurna. Puasanya masih bolong-bolong. Di 2012, dia bertekad puasa sebulan penuh. Berat memang tapi harus dijalani.

Sehari jelang puasa di Juli 2012, Romig sudah punya rencana. Dia ingin berfoya-foya makan menu enak. Dia memakan apapun sebelum mulai menjalani puasa. Di kepalanya sudah terbayang beratnya ditawari aneka jus saat berangkat kerja. Atau melintasi Times Square dengan donat gratis yang harus direlakan untuk teman kantornya.

Selanjutnya >>
(Visited 815 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *