Kisah Khalifah Al-Mustansir Dalam Menjaga Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Syariahcenter.com – Sejak abad ke-10 M, kekuasaan Abbasiyah perlahan tapi pasti mulai memudar. Menurut Badri Yatim dalam buku berjudul, Sejarah Peradaban Islam, kekuasaan Abbasiyah pada tahun 1000-1250 dalam bidang politik mulai menurun. Saat itu, terjadi masa disintegrasi di kekhalifahan yang sempat menjadi adidaya dunia itu.

Salah satu penyebabnya adalah banyaknya dinasti yang memerdekakan diri dari pusat kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Mengutip pernyataan W Montgomery Watt, Badri Yatim menjelaskan bahwa keruntuhan kekuasaan Abbas mulai terlihat sejak awal abad kesembilan. “Fenomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki kekuatan militer di provinsi-provinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen.”

Selain itu, fenomena perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan juga telah membuat kekuasaan Abbasiyah kian mengendur. Sisa-sisa kejayaan Abbasiyah memang masih terasa hingga abad ke-13 M. Di bawah kekuasaan Khalifah Abbasiyah ke-37, Al-Mustansir Billah, dinasti ini masih sanggup mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal itu dibuktikan dengan dibangunnya Universitas al-Mustansiriyah oleh Sang Khalifah.

Al-Mustansir (1192-1242) adalah khalifah Abbasiyah yang berkuasa selama 16 tahun, yakni dari tahun 1226 hingga 1242 M. Ia adalah putra azh-Zhahir bi Amrillah (Khalifah Abbasiyah ke-36) dan cucu dari an-Nashir (Khalifah Abbasiyah ke-35). Al-Mustansir digambarkan sebagai sosok khalifah yang hangat dan saleh. Seperti ayahandanya, ia menjadi khalifah dengan sedikit pengaruh politik.

Ia tetap mengembangkan ilmu pengetahuan di dunia Islam meski masa kejayaan Abbasiyah terus meredup. Tak cuma secara politik dan militer, dinasti ini juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar sehingga Baitul Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh, antara lain, dari al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi.

Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan negara menurun, sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat, diperingannya pajak, dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri serta tidak lagi membayar pajak.

Kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyah. Kedua faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan. Dinasti ini benar-benar ambruk ketika bangsa Mongol menghancurkan Baghdad pada 1258 M. (republika)

(Visited 245 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *