Kisah Jody Broto Suseno Dan Warung Kesuksesan Akhirat

Syariahcenter.com – Pria itu tampak sibuk di dapur. Tangannya terampil meracik satu demi satu pesanan masakan pelanggan. Begitu hidangan selesai dibuat, dengan sigap ia antarkan sendiri ke meja pembeli.

Tak lama, satu per satu pembeli lain datang. Bukannya sebal, wajah pria itu mendadak sumringah. Kelelahannya sirna melihat wajah pembeli. Segera Ia bergegas menghampiri mereka.

“Selamat datang,” sapanya ramah kepada pengunjung yang baru datang itu. Dengan cekatan ia menuliskan satu per satu menu pesanan pelanggan.

Tak jauh dari meja, di salah satu sudut restoran, sang istri tak kalah sibuknya. Di belakang meja kasir, wanita itu menghitung dan merinci angka demi angka total pembelian pengunjung.

Begitulah kesibukan pasangan suami-istri ini sehari-hari. Mengelola warung makan sederhana milik mereka. Bergulat berdua tanpa ada yang bala bantuan tambahan.

Bukannya tak ada orang yang membantu, mereka memang sedang merintis bisnis warung makan. Belum terlintas di kepala mereka merekrut orang sebagai karyawan. Melihat warungnya tak sepi pengunjung saja, sudah syukur.

Namun perjuangan dan lelah seolah terbayar. Warung itu semakin membesar. Sosok pria yang cuma pemilik warung makan sederhana berubah menjadi pengusaha kuliner sukses. Tak dipandang sebelah mata, warung makan kecilnya kini jadi gerai kuliner populer nyaris di seluruh wilayah Indonesia.

Pria dengan senyum ramah dan seorang istri yang setia menemani itu adalah Jody Broto Suseno. Dia pemilik Waroeng Steak & Shake (WS). Tempat makan yang tak asing bagi para pecinta kuliner. Gerainya tersebar di mana-mana. Puluhan pengunjung menyemut tiap harinya. Tumpukan makanan bersertifikat halal senantiasa ludes dipesan.

Antrean pun tak jarang mengular. Bersabar menanti hanya untuk dapat tempat duduk di gerai WS. Seiring waktu, usaha milik Jody ini kian maju.

Dimulai dari sebuah mimpi, Jody nekat mewujudkannya. Di tahun 2000, sebuah gerai sederhana dibangun.

“Setiap orang yang sukses itu dimulai dari impian yang kuat dan sungguh-sungguh,” kata Jody Broto Suseno.

Memegang Prinsip ‘Spiritual Company’

Kini warung WS sudah semakin besar. Mengelola lebih dari 1.000 karyawan bukan urusan sepela. Tak sekadar memberdayakan para karyawan, Jody juga merasa berkewajiban ikut membangun spiritualitas orang-orang yang bekerja dengannya.

Awalnya, Jody hanya berpikir praktis dengan mengikutkan hampir seluruh karyawannya training ESQ. Namun atas masukan beberapa ustaz, Jody akhirnya menerapkan prinsip “spiritual company”. Konsep bisnis yang jarang dipakai perusahaan.

Jody berniat membangun bisnis sekaligus meningkatkan religiusitas para karyawan. Tak hanya berorientasi pada keuntungan dunia, Jody ingin menjadikan bisnisnya sebagai media dakwah.

Setiap hari, absensi yang menunggu para karyawan untuk diisi adalah absensi Salat Duha. Jody juga menyediakan form khusus untuk hafalan satu juz ayat-ayat Alquran atau surat-surat pilihan. Bagi karyawan yang mampu menghafal satu juz, Jody akan memberikan penghargaan berupa hadiah Umrah.

Aturan spiritual company yang ia buat juga mewajibkan karyawan untuk berhenti merokok, menunaikan salat wajib tepat waktu, dan membaca Alquran satu hari satu juz. Ia juga menggelar pengajian rutin bagi para karyawan Waroeng Steak & Shake.

“Bagi seorang pengusaha muslim tidak bisa tidak memegang etika bisnis yang Rasulullah SAW contohkan pada kita, yakni Sidiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah. Dan yang paling penting juga adalah jangan pernah melupakan Allah,” tegas Jody.

Cara berbisnis yang berorientasi pada ‘kesuksesan akhirat’ ini telah membawa usahanya berkembang pesat. Kini usaha Jody sukses merambah berbagai daerah di Jawa, Bali, dan Sumatera. Bahkan berkembang ke berbagai lini, seperti Bebaqaran untuk ikan bakar, Bebek Goreng H. Slamet, dan Festival Kuliner (Feskul).

Kini, selain sibuk mengurus usahanya, Jody bersama Ustaz Yusuf Mansur aktif pula mendirikan Rumah Tahfizh di berbagai penjuru Indonesia dan mengasuh ratusan anak untuk menghafal Alquran.

“Saat ini sudah berdiri empat Rumah Tahfizh yang mengasuh 83 santri mukim dan 60 santri kalong, satu di antaranya adalah Rumah Tahfizh Waroeng Group. Alhamdulillah, usaha saya terbukti semakin meningkat,” ujar Jody yakin. (dream)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *