Kisah Cucu Kepala Suku Indian Menemukan Kedamain Dalam Islam

Syariahcenter.com – Dalam darah Dr. Maryam Blackeagle mengalir keturunan suku asli Amerika, Indian. Ayahnya dari suku Miami Wea, sedangkan ibunya campuran suku Cherokee dan kulit putih.

Kakeknya, Kepala Suku Big Horse, sementara buyutnya Kepala Suku Little Turtle. Moyangnya adalah salah satu pemimpin perang terbesar yang hidup hingga Pertempuran Little Big Horn (1876), perang terpenting dalam sejarah Indian yang berakhir pada kekalahan pasukan Amerika Serikat.

Maryam lahir di daerah perdesaan. Ia masih mengalami masa-masa berburu di alam bebas. Sesekali, ayahnya mengajaknya berburu dan menyuruhnya merangkak di tanah untuk mencium jalur yang ditinggalkan hewan.

“Kenangan terindah saya ketika berjalan sendirian di hutan, mendengarkan suara angin di sela pepohonan, dan duduk di dahan sambil makan buah liar,” tutur Maryam.

Semua kenangan itu berakhir ketika dia duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Dari perdesaan, keluarga Maryam pindah ke kawasan ‘hutan beton’ bernama Southern California.

Transisi kultur para penyintas suku asli Amerika sangat sulit. Banyak dari mereka kehilangan identitas. Beberapa suku yang kuat bekerja keras untuk menjaga identitas, tapi pada saat yang sama, mereka harus berjuang dengan masalah kekerasan, alkohol, dan penyalahgunaan obat terlarang.

Masalah itu pula yang harus dilewati Maryam sejak kecil. Ia dibesarkan di lingkungan yang sangat kasar. Orang tuanya bukan pecandu alkohol, tapi kerabatnya banyak yang gemar minum minuman keras.

Ketika mereka mabuk, tindakan apapun bisa berubah menjadi kekerasan. Ayahnya, meski bukan peminum, tapi sangat keras. Sementara, ibunya hanya seorang gadis muda tak berpendidikan yang menerima hidupnya apa adanya.

“Saya berasal dari keluarga yang mengalami disfungsional. Sejak usia dini, saya telah berusaha lari,” ungkap Maryam dilansir themuslimvibe.com, Rabu (18/11).
Pada usia 14 tahun, Maryam kabur dari rumah, tapi tertangkap dan dikirim kembali. Untuk kedua kalinya, Maryam melarikan diri pada usia 15 tahun dan menolak kembali ke rumah.

“Anda mungkin paham, mengapa saya paling bahagia saat sendirian di hutan. Setelah saya lari, saya adalah anak-anak di dunia orang dewasa. Tapi, sudah tidak ada hutan lagi.”

Pada titik itu, dia merasa terpuruk. Seringkali, Maryam berpikir Tuhan harusnya tidak memberi dia kehidupan. Dia benar-benar benci pada diri sendiri.

Krisis itu kemudian membawa Maryam pada perenungan spiritual. Dia mulai pergi ke ‘Gereja Hippie’ di usia dua puluhan. Maryam merasa cukup bahagia bersama mereka, tapi lukanya tetap tak tersembuhkan. Ia pun kecanduan obat terlarang.

Pada usia 24 tahun, Maryam telah menjadi seorang ibu tunggal dari anak yang mengalami sakit kronis. Saat bersamaan, ia masih berstatus mahasiswa keperawatan.

“Saya berusaha keras untuk membuat hidup kami lebih baik, tapi saya sendiri tersesat dalam kegetiran hidup dan penyalahgunaan obat.” Selangkah dia maju, dua langkah dia mundur.
Southern California adalah sebuah kota multikultur. Maryam hidup bersama orang-orang dari berbagai negara. Beberapa temannya berasal dari negara Muslim. Mereka sering pergi jalan-jalan atau pesta bersama-sama.

Kawan-kawan Muslimnya sangat menyenangkan, kecuali saat membicarakan soal agama. Pasalnya, kata Maryam, mereka selalu berbicara dengan nada bangga seolah lebih baik dari yang lain.

“Saya pikir, beraninya mereka berpikir begitu,” ucap perempuan itu.

Dari situlah, perkenalan Maryam dengan Islam bermula. Maryam mulai memutuskan untuk meneliti Islam. Dia ingin membuktikan kebanggaan itu tak lebih dari sampah.

“Saya benar-benar tidak ada keinginan untuk mengubah iman saya. Saya merasa akan sangat mudah untuk membuktikan kepalsuan Islam.”

Maryam membaca berita. Dia tahu betapa mengerikan perang dan revolusi di negara-negara Muslim. Maryam yakin itu akan menjadi tugas yang cepat dan mudah.

Medio tahun 1980an, tidak banyak sumber yang bisa mengenalkan Maryam pada Islam.
Ia mendapat sekarung penuh buku dari seorang sesepuh kelompok Muslim.

Ada sebuah buku berjudul ‘Inquiries Into Islam.’ Buku itu memuat diskusi antara seorang sarjana Muslim dan seorang pendeta Kristen.

Maryam duduk menyanding buku itu, Alkitab, dan Alquran. Setiap kali usai membaca satu bagian dalam buku itu, Maryam cocokkan isinya dengan kedua kitab suci yang dia pegang.

Berulang kali, dia memeriksa Alkitab untuk ayat-ayat yang sejajar dengan Alquran. Maryam mencoba menemukan kesalahan, tapi tidak ada satu pun.

“Saya menjadi cukup frustasi karena ini tidak bakalan seperti yang saya rencanakan,” ungkapnya.
Justru, Maryam kagum pada hal-hal yang dia baca dalam Alquran. Ia melihat ajaran tentang tanggung jawab dan keterkaitan manusia dengan alam semesta.

Bagi seorang suku asli Amerika yang lahir di alam bebas, ajaran itu terdengar indah. Yang dia temukan bukan penindasan dan degradasi perempuan, tapi martabat dan keesaan Tuhan.

“Semakin saya membaca, semakin saya butuh membaca,” kata dia. Maryam pernah mencoba berhenti membaca, tapi suara di kepalanya bergaung menyuruhnya untuk terus membaca. Ia merasa itu menjadi hampir seperti obsesi.

Suatu hari, ketika sedang duduk membaca Alquran di bawah pohon, dia merasa menemukan jawaban. Maryam melihat kebenaran. Dia jadi paham siapa dia, bagaimana seharusnya dia menjalani hidup, dan kemana dia setelah mati. Maryam duduk tertegun dan menangis.

“Ketika saya menyatakan syahadat, saya hampir tidak percaya,” kata Maryam. Tidak ada jalan lain. Dia telah mendengar begitu banyak cerita indah masuk Islam.

“Saya tidak ingin sama sekali, tapi saya tidak bisa menolaknya. Saya tidak memilih Islam. Islam yang memilih saya. Dan, saya tidak bisa menyangkal kebenaran ketika telah melihatnya.”

Sedikit demi sedikit, Maryam membersihkan hidup. “Saya menemukan kedamaian dan harga diri, yang saya tidak tahu apakah saya masih berhak atau tidak. Saya belajar bahwa Allah tidak membenci saya. Allah benar-benar mencintai saya,” tuturnya. (republika)

(Visited 607 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *