Khaulah Binti Azur, Pedang Allah Dari Kaum Hawa

BeritaPrima.com – Islam telah melahirkan banyak pahlawan. Sebuah agama yang turun di gurun pasir nan gersang bisa mengubah peta peradaban dunia. Lahirnya para pahlawan membuat Islam bisa menggema ke seantero bumi.

Bukan kaum lelaki saja yang bisa menjadi pahlawan Islam. Kaum perempuan pun bisa menjadi sosok yang menginspirasi. Bahkan, di medan perang.

Salah satu sosok pahlawan Muslimah di medan jihad adalah Khaulah binti Azur. Jika julukan “Pedang Allah” untuk kalangan laki-laki disematkan kepada Khalid bin Walid, maka Khaulah adalah “Pedang Allah” dari kaum hawa.

Keberaniannya amat besar. Bahkan, ketangguhan Khaulah saat berjihad melawan Romawi di medan jihad menginspirasi pasukan kaum Muslimin yang berisi para lelaki.

Awalnya, Khaulah bertugas seperti halnya mukminah lain sebagai petugas medis. Mengobati pasukan Muslimin yang terluka. Namun, saat mengetahui kakak kandungnya, Dhirara bin Azur, tertawan musuh, keberanian Khaulah bangkit.

Khaulah dan kakaknya sangat dekat. Bahkan, Dhirara-lah yang mengajarkan tentang ilmu perang kepada Khaulah. Khaulah sendiri cukup mumpuni memainkan senjata. Fisiknya juga menunjang. Ia tegap, tinggi, dan gesit. Khaulah juga jago menunggangi kuda.

Maka diambillah senjata, kemudian ia menutup seluruh tubuhnya kecuali matanya saja. Berpaculah Khaulah menyeruak ke pasukan musuh. Pasukan yang saat itu dipimpin Khalid bin Walid sedang terpukul. Mereka terdesak oleh serangan raksasa Romawi.

Namun, mereka terkesiap. Mereka melihat, dalam barisan kaum Muslimin, seorang ksatria yang gagah berani datang menunggang kuda. Ia menyergap setiap musuh Allah dan membunuhnya. Tak tampak ketakutan sama sekali. Pasukan kaum Muslimin pun terheran, siapakah gerangan ksatria yang berani menyerang saat pasukan terdesak?

Tidak tampak wajahnya, hanya sekelebat pandangan mata. Sang panglima, Khalid bin Walid, juga turut penasaran. Maka diikutilah sang penunggang kuda tersebut di tengah-tengah pertempuran.

Saat mendekati pejuang misterius tersebut, Khalid berkata, “Demi Allah yang telah melindungi seorang pejuang yang berani membela agama-Nya dan menentang kaum musyrik. Tolong buka wajahmu.” Khaulah belum mau menjawab pertanyaan sang panglima perang karena masih banyak musuh yang harus dihadapinya.

Khalid mengejar, lalu mengulangi pertanyaannya. Khaulah pun menjawab, “Aku Khaulah binti Azur. Aku melihat Kakakku, Dhirara tertangkap. Aku datang untuk menolongnya, membebaskan Kakakku yang berperang di jalan Allah.” Para pejuang Islam terkejut mengetahui pejuang misterius itu seorang perempuan.

Kehadiran Khaulah di medan perang memberi andil dalam memenangkan perjuangan tentara Islam. Tapi, nasib kakaknya belum jelas karena sampai akhir peperangan keberadaannya belum diketahui. Teka-teki itu pun terjawab setelah Romawi mengajak damai. Dhirara ditawan di Homs karena telah membunuh anak raja dan banyak tentara Romawi.

Khaulah tidak mau tinggal diam. Ia memohon kepada pimpinan perang untuk bergabung membebaskan kakaknya. Khaulah pun kembali berlaga di medan perang dengan jubah serba tertutup. Gema takbir dan keyakinan kuat pada pertolongan Allah berhasil menyelamat kan Dhirara.

Selain berani di medan perang, Khaulah dikenal memiliki strategi jitu untuk menghadapi musuh. Ini terbukti saat ia bersama sejumlah Muslimah menjadi tawanan Perang Sahura. Ketika itu, Khaulah bergabung sebagai tim kesehatan dan logistik. Sialnya, para mujahidah ini ditangkap tentara Romawi. Mereka dikurung berhari-hari di bawah pengawalan ketat pasukan musuh.

Walaupun tanpa senjata di tangan, Khaulah memberontak. Ia menyusun strategi agar bisa menyelamatkan diri bersama teman-temannya. Langkah awal yang dilakukan Khaulah ialah memotivasi mereka agar mau bebas sebelum dilecehkan para tentara musuh.

Khaulah tidak kehilangan akal. Walaupun bukan senjata sesungguhnya, Khaulah mengajak para mujahidah memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya, seperti tiang-tiang dan tali kemah. Hal yang penting, para mujahidin yakin pertolongan Allah pasti datang untuk melepaskan para pejuang Muslimah dari tentara Romawi. “Ingatlah syahid lebih baik bagi kita daripada dihinakan kaum kafir,” kata Khaulah. (republika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *