Ketika Dian Sastro Menemukan Islam

Syariahcenter.com – Raut wanita dalam foto itu serius. Tampak tekun. Kepala berbalut kerudung, tertunduk. Mata terkunci ke bawah. Khusyuk. Tangan kanan menggenggam mic. Disodorkan ke bibir yang terlihat tengah membaca.

Dia tak sendiri. Di samping kanan, duduk perempuan paruh baya. Juga berkerudung. Wanita berkaca mata itu memaku pandangan ke arah kiri. Mengamati wanita muda di samping dengan lekat.

“Khataman Qur’an dan pengajian sebelum akad..” Demikian bunyi kalimat yang tertulis di sebelah kanan foto kedua perempuan tersebut.

Dua perempuan dalam foto itu adalah Dian Sastrowardoyo dan sang bunda, Dewi Parwati Setyorini. Dian tengah membaca Alquran sebelum akad nikah. “Mama aku yang Katolik benar benar supportif dan mendukung aku untuk khatamin Qur’an sebelum menikah..”

Gambar itu diambil sebelum pernikahan Dian dengan Maulana Indraguna Sutowo pada 2010. Kemudian diunggah ke Instagram melalui akun @therealdisastr pertengahan tahun lalu.

Khataman Qur’an dan pengajian sebelum akad.. Mama aku yang Katolik benar benar supportif dan mendukung aku untuk khatamin Qur’an sebelum menikah.. Dia bahkan ikut terharu pas aku melafalkan ayat ayat juz amma di akhir pembacaan Qur’an, dia tau usaha aku yg les ngaji terus terusan demi bisa selesai sebelum nikah. Mama aku selalu supportif dengan pilihan spiritual aku, kata mama: agama apapun yang kamu pilih boleh saja asal harus dengan satu syarat: harus benar benar taat dan khusyuk kalo lagi ibadah!!! Moral of the story is apapun agama kamu, pastikan itu hubungan mu sendiri dengan Yang Maha Kuasa.. Dan yang pasti alhamdulillah di keluarga aku walaupun berbeda beda tapi kita semua tetap saling menghormati dan saling cinta.. I love my mom and I’m so grateful about having her as my motherððð#bhinekatunggalika #toleransiberagama #indonesiaitubhineka

Dian memang tumbuh dalam keluarga majemuk. Tapi beruntung, keputusan menjadi mualaf tak ditentang keluarga. Perjalanannya mulus. Dan foto di Instagram itu menjadi buktinya. Sang bunda dengan setia berada di samping Dian yang sedang membaca Alquran.

“Dia bahkan ikut terharu pas aku melafalkan ayat ayat juz amma di akhir pembacaan Qur’an,” tulis Dian.

Menurut dia, sang bunda tahu persis bagaimana perjuangannya menjadi mualaf. Termasuk bersusah payah belajar mengaji. “Dia tau usaha aku yg les ngaji terus terusan demi bisa selesai sebelum nikah.”

Memang inilah indahnya toleransi. Keyakinan dua perempuan ini memang saja beda. Tapi kasih sayang sebagai ibu dan anak tak pernah luntur. Bahkan sang bunda mendukung penuh keputusan Dian untuk masuk Islam.

“Mama aku selalu supportif dengan pilihan spiritual aku, kata mama: agama apapun yang kamu pilih boleh saja asal harus dengan satu syarat harus benar benar taat dan khusyuk kalo lagi ibadah!!!”

Dalam postingan itu pula Dian menyampaikan pesan moral dari kisah toleransi di keluarganya. “Moral of the story is apapun agama kamu, pastikan itu hubungan mu sendiri dengan Yang Maha Kuasa.”

“Dan yang pasti alhamdulillah di keluarga aku walaupun berbeda beda tapi kita semua tetap saling menghormati dan saling cinta.. I love my mom and I’m so grateful about having her as my mother,” tutup Dian. (dream)

(Visited 314 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *