Kekaguman Terhadap Kisah Rasulullah Abtar Lestari Memeluk Islam

Setelah ‘petualangannya’ mempelajari berbagai agama dan merasa Islam lah agama yang tepat, maka pada 2006 ia bersyahadat di Masjid Lautze, Mangga Dua Jakarta. Ayih pun masih menutupi keislamannya dan sembunyi-sembunyi ketika beribadah. Namun, pada akhirnya di bulan Ramadhan, ia menceritakan keislamannya kepada pembantu rumah tangga dan meminta dibangunkan sahur untuk berpuasa. Pembantunya sangat senang mendengar kabar itu dan diam-diam mereka sering beribadah bersama.

Pada bulan Ramadhan itu, Ayih sedang melaksanakan shalat Magrib dan lupa mengunci pintu kamarnya. Setelah selesai shalat ia di sidang oleh kedua orang tuanya. Ayih pun mengakui bahwa ia sudah memeluk agama Islam. Mendengar itu ayahnya sangat kecewa, tapi tidak memarahinya yang justru memarahinya adalah ibunya yang beragama Islam.

Itu semua ibunya lakukan karena takut hubungan Ayih dan ayahnya jadi tidak baik. Dan benar saja, kekhawatiran ibunya itu terjadi. Diam-diam ayahnya mencari tahu sebab keislaman Ayih hingga mencari tahu ke kampus tanpa sepengetahuan Ayih. Terjawablah bahwa Ayih mempelajari Islam karena sahabatnya itu.

“Sahabat saya yang sama-sama belajar agama Islam, dia kembali lagi ke Katholik dan nangis-nangis merasa bersalah karena sudah membawa saya ke jalan yang sesat yaitu Islam. Dia bahkan membujuk saya untuk kembali ke Katholik, ya tapi saya tidak bisa. Karena saya yakin Islam adalah agama yang benar. Saya juga yakin kalau seluruh manusia di dunia ini mau belajar pasti mereka akan masuk agama Islam,” ungkapnya.

Upaya keluarganya menarik Ayih untuk kembali pun beragam, mulai dari sindiran halus, cacian hingga ayahnya membuat video-video tentang keagungan agama Katholik yang diyakininya. Bahkan, ayahnya menunjukan video-video terorisme Islam juga ustad-ustad yang terlibat berbagai kasus. Namun, upaya ayahnya itu semua, tidak menggoyahkan keimanannya, hingga akhirnya semua fasilitas ditarik oleh ayahnya, mulai dari mobil, kartu kredit dan uang kuliah hingga akhirnya Ayih tidak bisa lagi melanjutkan kuliah.

Ayih memutuskan untuk pergi dari rumah. Berbekal uang tabungannya, ia tinggal di kos-kosan yang cukup mewah dan lengkap dengan fasilitas seperti di rumahnya. Tapi, itu hanya bertahan selama tiga bulan, karena uang tabungan semakin menipis lalu ia pindah ke kos-kosan dengan harga yang sedikit lebih murah. Lagi-lagi, itu hanya bertahan beberapa bulan juga, dan kemudian ia pindah ke kos-kosan yang kumuh dengan harga Rp 250 ribu per bulan yang sering bocor dan kebanjiran.

“Sampai makan saja susah waktu itu. Yang dulunya merasa jijik makan nasi bungkus, pada saat itu, makan nasi bungkus dengan lauk seadanya. Saya sudah bersyukur, saya merasa ujian yang Allah kasih sangat berat buat saya. Dulu saya berdoa masih menyebut dengan Tuhan, saya berdoa begini: ‘Ya Tuhan jika saya harus mati dalam keadaan begini, itu lebih baik, karena saya mati dalam keadaan beriman ada Engkau di hati ku. Tolong bantu aku Tuhan, topang aku Tuhan’,” kenangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *