Kekaguman Terhadap Kisah Rasulullah Abtar Lestari Memeluk Islam

Menurut Ayih, semakin dia mempelajari Islam, semakin dia mempelajari agamanya sendiri. Ayih yang selama ini hanya Kristen keturunan, mulai mempelajari agama kristen lebih dalam, tapi yang ia dapat hanya kebohongan dan tidak masuk di akal.

“Saya mulai belajar tentang sejarah gereja, pohon natal, hari raya natal hingga mempelajari adanya Yesus yang saya sandingkan dengan Nabi Isa. Setelah saya pahami dengan akal sehat, ternyata itu semua adalah rekayasa manusia. Ternyata, Islam itu memang benar-benar agama rahmatan jadi memang tidak bisa di rekayasa,” tegasnya.

Nabi Muhammad SAW pun ketika menerima Alquran secara berangsur-angsur. Takjubnya lagi, sejak zaman dahulu sampai sekarang, keaslian Alquran tidak berubah. Ini karena Alquran dijaga langsung oleh Allah SWT.

Sedangkan yang saya bandingkan dengan Kristen yang turun langsung satu buku, itu pun sudah direkayasa dan disortir oleh sahabat nabi Isa yang salah satunya Paulus. Sebenarnya, dalam katholik ada beberapa yang mirip-mirip dengan Islam, contohnya babi itu haram. Entah motivasi apa sahabat-sahabatnya itu mengubah isi Injil sedikit-sedikit dengan harapan mungkin biar tidak terlalu ketara.

“Itu dia sebabnya ada perjanjian lama dan perjanjian baru. Perjanjian lama itu yang dipahami oleh umat katholik, sementara perjanjian baru yang dipahami oleh umat protestan,” ujarnya.

Akhirnya, dia berpikir ternyata banyak orang yang sudah dibodohi hanya meyakini iman saja, tidak mau belajar sejarah yang sebenarnya nyata. Ayih pun merasa tidak cukup hanya mempelajari dua agama saja, akhirnya dia pun mempelajari agam Hindu, Budha, dan Siddhattha Gotama. Maka, sejak saat itu, ia mulai memahami bahwa penyembahan berhala itu adalah berasal dari syaitan.

Ayih meyakini itu karena sesuai dengan kisah Nabi Adam as yang turun dari surga akibat ulah syaitan yang sombong tidak mau bersujud kepada Nabi Adam as. Korelasi penyembahan berhala dan menolak menerima ke-Esa-an Allah itu, sebenarnya upaya iblis dan pasukannya untuk menyesatkan manusia. “Kebanyakan kesesatan itu karena hanya meyakini iman saja, tapi tidak mau berpikir dan belajar,” ucapnya.

(Visited 387 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *