Beginilah Sistem Kewalian Di Demak

Syariahcenter.com – Demak adalah nama sebuah kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Terletak di pesisir pantai utara pulau Jawa, wilayah ini pernah menjadi pusat peradaban masa lalu Nusantara. Pada abad keenam belas, ketika di Perancis mengalami masa Revolusi Industri, di Nusantara sedang mengalami pergeseran peradaban dari Majapahit ke Demak. Hal ini oleh para sastrawan dilukiskan sebagai Senjakala ing Majapahit atau Sirna Kerta ing Bumi. Yang berarti, masa senja kebesaran peradaban Majapahit atau kebesaran Raja Kertajaya purna dari bumi.

Jatuh bangun sebuah peradaban di dalam sejarah sudah sering terjadi. Sebagaimana peradaban Mesopotamia dan Arkadia di tepi Sungai Tigris, peradaban Mesir, peradaban Persia, peradaban India, atau peradaban muslim Arab. Setiap peraban tersebut memiliki ciri khasnya masing-masing, demikian pendapat Nasr Hamid Abu Zaid. Karena, alasan jatuh bangun peradaban ini, maka tidak mustahil jika pergeseran di Nusantara, terutama di pulau Jawa, terjadi. Sebagaimana peradaban Tarumanegara di Bogor, peradaban Dieng, peradaban, peradaban Mataram Lama, peradaban Singasari, peradaban Majapahit, hingga Demak. Pergeseran yang bias diartikan sebagai puncak kemakmuran dan kejayaan yang sudah lelah.

Dari asumsi ini, kemunduran sebuah peraban dapat disebabkan oleh berbagai persoalan, seperti perebutan tahta dan ambisi oleh para pewaris yang berlanjut pada perang saudara yang menyebabkan kebobrokan moral, atau karena serangan dan campur tangan dari luar.

Dari alasan “pergeseran” ini dapat dibuktikan dengan symbol-simbol kebesaran Majapahit masih dipakai oleh kerajaan Demak. Simbol tersebut adalah Matahari (Surya) sebagai lambang kerajaan yang masih terdapat di atas mihrab Mesjid Demak. Mesjid yang didirikan oleh para Walisanga.

Mesjid sebagai Lembaga Permusyawaratan
Suara iringin lagu Lir Ilir yang diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga menyambut pengunjung yang datang dengan salawat Bantenan. Tidak diketahui asal usul nama Bantenan tersebut ketika ditanyakan kepada pimpinan grup salawat tersebut, Abdul Wahhab. Terdapat dua kemungkinan nama Banten digunakan, yaitu model atau gaya grup salawat tersebut diadopsi dari Banten atau bisa dikembalikan kepada makna asalnya dari sebutan bahasa Sansekerta sebagai “persembahan”. Banten dalam arti sesembahan. Persembahan salawat yang ditujukan kepada para tetamu yang datang. Di dalam tradisi Syiwa-Buddha, persembahan berupa umbe rampe dikenal sebagai “bebantenan”, persembahan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa yang hanya ada di dalam tradisi Syiwa-Buddha di Nusantara.

Sebagai pusat peradaban, keraton Demak sebagai singgasana raja sering dipertanyakan letaknya. Ada asumsi yang mengatakan; teknologi kayu, terutama jati sebagaimana yang digunakan di mesjid Demak telah dihancurkan, terutama Sultan Agung yang telah menghancurkan pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai utara pulau Jawa untuk menghindari serangan Portugis dan Belanda. Sehingga keraton kayu yang didirikan oleh raja-raja Demak tidak berhasil dipertahankan.

Namun demikian, asumsi ini tidak sepenuh benar, mengingat keraton yang ada di Cirebon masih tetap berdiri, meskipun dengan konsekuensi kerajaan Cirebon tidak boleh memiliki tentara oleh Belanda. Di samping, kerajaan-kerajaan Hindu di Bali biasa tidak memiliki keraton sebagai pusat kerajaan.

Penggunaan simbol-simbol kerajaan seperti Surya Majapahit atau Bulus (kura-kura) yang tertera di mihrab menunjukkan harmonisasi terjadi antara Majapahit dan Demak. Bulus yang berarti “melebu alus” dipraktekkan sebagai sikap patuh atau tawadu kepada pimpinan. Dipraktekkan, setiap orang yang masuk ke dalam mesjid Demak harus berjalan “ngesot” selayak seorang hamba menghadap sang raja.

Sistem Kewalian
Pengertian wali dalam konsep sufisme berarti “kekasih Allah” atau orang yang memiliki kedekatan (taqarrub) kepadaNya. Sehingga ada banyak kitab yang menjadi referensi sufisme tersebut, yang menyebutkan tentang ciri-ciri dan tahap-tahap menuju kewalian, seperti kitab Inayatul Azkiya karya Syekh Mahfudz At-Tarmisi. Wali dalam konteks ini dimengerti sebagai orang suci (saint) yang memiliki pengalaman kerohanian menembus alam misykat hingga mampu menempuh maqam-maqam (stations) tertentu. Maka tidak heran, jika seorang wali bisa mencapai maqam tertinggi yang biasa dikatakan sebagai wali qutb. Sebagaiman sistem sebuah pemerintahan, wali-wali ini memiliki jenjang struktural: wali abdal, wali awtad, wali nuqaba, dan wali qutb. Mereka tersebar di penjuru dunia. Sistem kewalian di dalam sufisme Islam ini dikenal di dalam ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Implementasi sistem kewalian ini kemudian dimanifestasikan oleh ulama-ulama Nusantara ke dalam sistem pemerintahan dan politik kenegaraan. Pendapat ini memang tidak populer didengar, namun mulai dikaji dan diteliti tentang sistemnya. Istilah “Dewan Walisanga” yang belakangan muncul menjadi salah satu jawaban misteri terhadap eksitensi sistem Walisanga yang memiliki rentang sejarah berbeda. Padahal, di dalam cerita tutur masyarakat, semua wali sembilan tersebut sering bertemu dalam satu ruang dan waktu yang sama. Sehingga tidak dapat dinalar secara logis, bahkan disangsikan adanya. Walisanga di Nusantara tidak pernah ada.

Di dalam tradisi muslim Nusantara—terutama di pulau Jawa—selain Walisanga, di setiap penjuru daerah banyak tersebar makam wali-wali yang dihormati masyarakat setempat dengan mengadakan hari peringatan (haul). Dalam sebuah pernyataan, KH Abdurrahman Wahid menyatakan setiap desa ada wali. Ada banyak nama makam yang memiliki nama serupa, seperti Syekh Maghribi, Sunan Kalijaga, atau Syekh Makhdum. Di samping kewalian hanya dirunut ke dalam hubungan emosional guru dan murid atau orangtua dan anak.

Ahmad Widodo (lahir 1965) kepada Tim Ekspedisi Islam Nusantara ketika sampai di Demak Demak, (7/4) menyodorkan istilah sistem kewalian tersebut menjadi 3: Wali Ngajeng (koordinator, yang diwakili oleh para sunan Walisanga), Wali Bekel (duduk di pemerintahan sesuai denga profesinya, seperti penghulu atau jaksa), dan Wali Wingking yang membantu di wilayah masing-masing. Nama-nama yang biasa disebut sebagai Wali Wingking tersebut adalah Sunan Pengging, Sunan Tingkir, Sunan Butuh, Sunan Banyubiru, dan Sunan Jatinom. Dari sini kemudian, kesunanan dapat dimengerti sebagai sebuah sistem. (M. Sakdillah, anggota tim Ekspedisi Islam Nusantara/ nuorid)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *