Ini Yang Bisa Anda Dapatkan Di Jakarta Islamic Fair 2015

Syariahcenter.com – Di bawah terik matahari yang membakar udara Jakarta, segerombolan muda-mudi merangsek masuk ke kompleks olahraga di jantung Ibu Kota, Plaza Tenggara Gelora Bung Karno Senayan.

Makin siang, situasi makin gaduh. Padahal tak ada jadwal konser musik atau pertandingan sepakbola hari itu, 25 November 2015. Kebanyakan dari mereka datang membawa kendaraan pribadi dan menumpang angkutan umum.

Semua yang datang tertuju ke sebuah panggung megah. Dengan wajah basah berkucur keringat mereka tak sabaran menanti seseorang. Dan yang ditunggu pun muncul dari balik panggung.

Suara mendadak ramai menyambut pria berpeci dengan setelan serba hitam itu. Dia adalah ustaz Yusuf Mansyur. Para remaja ini rupanya rela panas-panasan demi bisa mendengar tausiyah dari sang ustaz di pembukaan pameran bernuansa religi, Jakarta Islamic Fair (JIF) 2015.

“Kegiatan Jakarta Islamic Fair ini menunjukkan kita sudah bergerak. Move on. Ini menunjukkan kita telah siap membuat perubahan roda ekonomi umat. Insya Allah,” kata pimpinan pondok pesantren Daarul Quran Ketapang, Cipondoh, Tangerang.

Banyak orang penasaran dengan apa yang ditawarkan di sana. Lalu apa menariknya?

Terik matahari perlahan tersapu awan mendung. Tausiyah sang ustaz selesai. Pengujung perlahan mulai panggung utama. Mereka kini beralih mengunjungi puluhan stand berbentuk tenda kerucut.

Dari pantauan, pengujung yang kebanyakan dari kalangan muda tengah asyik melihat aneka pakaian muslim dari brand milik artis Tanah Air.

Expo yang digelar selama empat hari, mulai 25 hingga 29 November 2015, diikuti 150 tenant dari fesyen, kuliner, travel, dan pameran buku Islami.

“Saya dari kampus terus datang ke sini untuk dengar tausiyah dari ustaz Yusuf Mansyur dan melihat baju-baju Muslim,” kata Sophina, 22 tahun, mahasiswi salah satu universitas swasta di Jakarta.

Gadis berparas ayu itu mengaku tertarik mengujungi JIF 2015 lantaran konsep yang disajikan berbeda dari expo muslim yang sudah-sudah.

“Banyak pakaian keren dan unik, cocok buat anak muda yang ingin berekspresi tetapi tetap sesuai dengan tuntunan agama, harganya juga miring. Pas buat kantong mahasiswi seperti saya,” kata dia.

Ingin mencetak kesuksesan seperti Jakarta Clothing Expo (JakCloth), Ucok Nasution, CEO Lian Mipro, memiliki ide untuk membuat Jakcloth bernuasa Islami. Sampai akhirnya lahirlah Jakarta Islamic Fair.

Ucok menyatakan sangat optimis acara ini bisa menuai sukses. Pasalnya, pasar dari produk muslim di Indonesia sangat luas.

“Pasar akan sangat luas, JakCloth itu yang datang 60-70 persen cowok, female-nya 2 dari 5 yang datang berhijab. Malah mereka menanyakan ada baju muslim atau tidak. Ini faktor yang membuat kita ingin membuat acara ini,” ujar Ucok.

Ucok menjamin para pengunjung bisa puas karena begitu banyak pakaian unik. “Ada koko gaul, flanel yang jadi koko modif, dibuat seunik mungkin, ada hijab street wear, jadi kaos dengan nuansa islam,” kata dia.

Diakui Ucok, dari segi konsep ada perbedaan sangat mencolok dengan penyelenggaran expo konvensional. Jika biasanya mendatangkan band-band indie. Pada JIF, mereka mengada lomba menghafal Aquran serta menyanyi untuk hijabers.

Selain itu, penyelengara mengundang Harris J, pemenang kontes menyanyi di Awakening Talent Contest #AwakeningStar. Harris J yang menggemari sepakbola ini rupanya pernah membaca Al-Quran untuk Gaza di hadapan khalayak ramai dalam acara Recitation at Charity event for Gaza.

Tak ketinggalan juga di acara ini akan ada parade Tausiyah yang dibawakan beberapa ustaz dan ustazah yang memiliki karakteristik berbeda-beda, ada Ustaz Yusuf Mansru, Aa Gym, Ustaz Lukman Sayadi, Ustaz Taufiquurahamna.

Adapun beberapa clothing dan muslim wear serta travel yang akan berpartisipasi antara lain, Elzata, Dauky, Jenahara, Ria Miranda, Danish, Nands, Salma Aqeela, Meccanism By Zaskia Mecca, House of Bruggman by Indra Bruggman, Sophie Paris, Tonik, Oase Wear, Gerai Hawa by Shireen Sungkar, Indra Bekti Bekti Moslem Wear, Elbise, House of Geeight, Fajar Berkah Ilahi Travel, Patuna Travel, Patuna Travel, Ferry Daud Boutiq, Darul Tauhid, dan masih banyak lagi.

Di expo ini, Ucok berhasil menggaet 150 pelaku bisnis syariah. Di mana 70 persen diantaranya terdiri dari bisnis fesyen. Sedangkan sisanya terdiri dari kuliner dan travel halal. Kemudian pameran buku-buku Islami.

“Untuk expo semacam ini dibutuhkan dana dua hingga Rp 3 miliar. Ini pertama menyelengarakan, tentu sedikit sulit meyakinkan para peserta. Tapi dengan image Jakcloth selama ini sangat membantu,” ujarnya.

Dengan banderol tiket masuk Rp 20 ribu, penyelenggara optimis bisa mendatangkan 100 ribu pengunjung selama JIF berlangsung. Soal target pendapatan, minimal bisa dapat setengah dari JakCloth.

Kedepannya, lanjut Ucok, acara ini akan diselenggarakan tiap tahun. Dan rencananya akan ada JIF edisi ramadan untuk menyambut lebaran.

Sebelum Jakarta Islam Fair, expo muslim lain yang tak kalah menarik dan banjir peminat adalah Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF). Ajang yang sudah digelar sejak 2010 terus menunjukkan perkembangan peserta, demikian pula dengan pengunjung.

Namun sayang, pada 2013, menjadi gelaran terakhir IIFF. Adalah Jetty R Hadi, salah satu pencetus IIFF. Ajang ini bertujuan untuk mengeksplorasi kekuatan Indonesia dalam industri kreatif fashion, terutama busana Muslim. Dan misi utamanya adalah menjadi “Kiblat Busana Muslim Dunia” pada 2020.

Desainer-desainer busana Muslim kenamaan dari Indonesia, seperti Itang Yunasz, Shafira, Monika Juffry, Up2Date, Ria Miranda ikut serta dalam IIFF.

“Ajang ini responnya luar biasa. Pada gelaran IFF terakhir, kita menggandeng 400 pelaku industri fesyen muslim. Bahkan sudah banyak desainer yang ditolak karena tidak ada stand tersisa,” kata Jetty.

Dalam perjalanannya, seiring makin berkembang fesyen muslim di Tanah Air, beberapa ajang fashion show mulai memberikan porsi lebih ke busana muslim. Dan kebetulan IIFF vakum untuk sementara waktu, karena kesulitan mendapatkan tempat yang sudah lebih dulu di-booking untuk pameran lain.

“Tantangannya saat kita menggelar acara adalah tempat. Kita kesulitan menembus manajemen salah satu mal paling bergengsi di Indonesia. Misal kaya booth Ida Royani, didirikan di samping gerai Lovition, pada awalnya kami hanya ingin menyampaikan pesan kami bisa setara disejajarkan dengan brand ternama dunia,” kata wanita yang akrab disapa Tila.

Faktor lainnya adalah sejumlah perbaikan yang harus diperhatikan para desainer. Terutama mengenai kualitas rancangan mereka, baik jahitan maupun hasil desain.

“Harus ada kesepakatan bersama mengenai standar ukuran yang dipakai orang Indonesia. Selama ini belum ada standar baku menyangkut ukuran baju. Sehingga antara satu desainer ke desainer lain memiliki ukuran berbeda.”

Meski begitu, kata Tila, dengan meningkatnya pemahaman agama para muslimah, mendorong bisnis ini tumbuh semakin subur. Ditambah dengan tingginya kebutuhan mencari kuliner dan pariwisata halal, membuat expo menjadi strategi pemasaran paling efektif untuk menawarkan produk syariah.

“Nanti tahun depan kita akan adakan lagi IIFF. Rencananya sebelum lebaran,” ujarnya. (lis)

(Visited 1.087 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *