Imanda Riyanti Bersyahadat Setelah Mimpi Kenakan Hijab

Syariahcenter.com – Pada tanggal 25 Februari 2016, Pesantren Pembinan Muallaf Yayasan Annaba Center Indonesia kembali kedatangan tamu. Dia adalah saudari Imanda Riyanti, seorang non Muslim yang datang dengan niat untuk mengucapkan kalimat syahadat di pesantren Annaba Center. Imanda, panggilan akrab ibu berusia 40 tahun ini, datang bersama empat orang rekan yang lain, termasuk saudaranya yang memang beragama Islam.

Kedatangan mereka disambut oleh pimpinan pesantren KH. Syamsul Arifin Nababan dan para ustadz. Tak lama setelah perbincangan singkat mengenai perbandingan agama dan menjelaskan alasan mengapa Imanda memilih Islam, usai melaksanakan shalat isya, Imanda pun segera disyahadatkan.

Sebelumnya, Ibu kelahiran Jakarta, 05 Agustus 1976 ini mengaku sudah lama ingin masuk Islam. Bahkan, sejak berada di sekolah dasar, ia ingin sekali bisa membaca Al-Quran sebagaimana anak-anak seusianya dulu. Selain itu, Imanda menuturkan keinginan masuk Islam semakin kuat pasca suaminya meninggal dunia.

Sering kali ia mendapati isyarat lewat sebuah mimpi yang menguatkan hatinya untuk memeluk Islam. Menurut pengakuannya dalam mimpi tersebut Imanda mengenakan jilbab layaknya seorang Muslimah. “Dalam mimpi itu saya merasa menjadi seorang Muslimah yang mengenakan pakaian yang menutupi aurat, termasuk dengan jilbab. Mimpi ini terjadi berkali-kali pada diri saya. Inilah yang membuat saya semakin yakin bahwa saya harus masuk Islam. Apalagi sedari kecil saya sudah memiliki niat untuk bisa mengaji seperti anak-anak Islam.”, katanya.

Imanda kemudian dibimbing langsung oleh Kiai Nababan untuk mengucapkan kalimat syahadat. Pasca pensyahadatan tersebut, Imanda diberikan penjelasan oleh Kiai Nababan bahwa syarat diterimanya sayahadat setelah diucapkan, haruslah diyakini dalam hati dan kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bu Imanda, konsekuensi keberimanan seseorang terhadap Islam adalah harus melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah sebagai rukun Islam. Dan meyakini serta membenarkan apa yang disebut sebagai rukun iman. Oleh sebab itu, semuanya akan tercermin melalui praktek kehidupan kita sehari-hari,” tutup kiai. (lis)

(Visited 221 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *