Hukum Pergi Berjihad Bagi Kaum Muslimah

Syariahcenter.com – Beberapa hari lalu kita dikejutkan oleh kabar hilangnya seorang perempuan di Sleman yang meninggalkan rumah tangganya untuk berjuang di jalan Allah. Tetapi beberapa hari kemudian ia bersama balitanya dijemput oleh aparat kepolisian di sebuah pulau terpencil sebelum ia melanjutkan perjalanan ke medan perang di Timur Tengah.

Aparat menemukan sebuah surat yang sempat ia tulis untuk suaminya bahwa dirinya akan berjuang di jalan Allah. “Berjuang di jalan Allah” menjadi ungkapan menarik yang patut dicermati. Frasa ini menjadi daya tarik luar biasa yang menggerakkan seseorang untuk mengorbankan segala yang dimilikinya.

Bagaimana memahami fenomena ini dalam konteks hukum Islam? Dalam bahasa agama, berjuang di jalan Allah dalam arti perang fisik disebut “jihad”. Ulama sepakat bahwa hukum jihad adalah fardhu kifayah, sebuah kewajiban yang cukup diwakili oleh segelintir orang. Artinya kewajiban jihad tidak ditujukan untuk semua umat Islam.

Ulama menyebut secara jelas tujuh syarat mereka yang wajib berperang. Mereka adalah orang yang beragama Islam, balig, berakal, merdeka, laki-laki, sehat, dan memiliki kesanggupan berperang.

Kondisi Darurat Perang

Kelengkapan syarat ini juga belum cukup menjadi alasan seseorang untuk langsung menerjunkan diri dalam peperangan. Pasalnya fardhu kifayah merupakan kewajiban yang waktunya tidak ditentukan oleh agama, tetapi oleh kondisi-kondisi khusus. Contoh fardhu kifayah lainnya seperti mengurus jenazah, mengobati orang sakit, atau menjadi saksi dalam kasus kejahatan.

Kita tidak bisa mengurus jenazah mulai dari memandikan hingga memakamkan jenazah kalau tidak ada orang meninggal dunia. Begitu juga mengobati orang sakit. Kita tidak dibenarkan melakukan operasi jantung terhadap orang yang sehat wal afiyat. Lalu kapan kondisi khusus yang memungkinkan kita untuk berperang?

Ulama Syiria Syekh Wahbah Zuhaili menyebut tiga kondisi darurat militer. Pertama, ketika dua pasukan sudah saling berhadapan dan tidak ada titik temu. Kedua, saat pasukan kafir menduduki satu wilayah kekuasaan kita. Ketiga, ketika presiden memerintahkan perang terhadap pasukan musuh. (Lihat Wahbah Az-Zuhaily, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, juz 6, halaman 417, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985).

Kendati demikian status hukum jihad ini bisa berubah menjadi fardhu ‘ain, kewajiban yang dipikul oleh setiap orang. Perubahan hukum ini juga mesti didukung oleh kondisi yang benar-benar darurat. Ahli fikih Indonesia KH Afifudin Muhajir menyatakan bahwa jihad menjadi fardhu ‘ain ketika pasukan kafir sudah masuk di wilayah kekuasaan kita. Saat itulah penduduk setempat sedapat mungkin mengusir mereka. (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, Maktabah Al-As’adiyah, Situbondo, halaman 193, cetakan pertama, 2014).

Guru Besar Hukum Islam abad 19 M Muhammad Khudhari Bek menulis buku bagus yang memaparkan sejarah bagaimana sebuah hukum Islam diproduksi di masa turunnya Al-Quran. Di buku ini Khudhari Bek mengatakan bahwa Al-Quran di banyak ayat menjelaskan dua sebab yang mendorong umat Islam harus berperang.

Pertama, pembelaan diri dari kezaliman pasukan kafir. Kedua, pembelaan dakwah dari upaya fisik pihak-pihak kafir yang memaksa orang beriman meninggalkan Islam. (Lihat Muhammad Khudari Bek, Tarikh Tasyri’ Al-Islami, Darul Fikr, Beirut, halaman 35, 1995).

Lalu apakah ada lagi ketentuan lain sebelum seseorang memutuskan untuk berjuang di jalan Allah? Syekh Wahbah Az-Zuhaily dengan eksplisit menyebut perang sepenuhnya berdasarkan pertimbangan presiden sebagai simbol negara. Rakyat harus menaati pertimbangan presiden terkait perang. (Lihat Wahbah Az-Zuhaily, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, juz 6 halaman 419, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985).

Dari sejumlah keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa putusan untuk berjuang di jalan Allah tidak dibenarkan atas inisiatif pribadi, pandangan suatu kelompok masyarakat, atau pandangan-pandangan subjektif lainnya. Putusan untuk menjadi relawan yang berjuang di jalan Allah harus memerhatikan rambu-rambu terkait jihad di jalan Allah seperti uraian di atas.

Bentuk Lain Jihad di Jalan Allah

Islam agama yang sangat luas. Ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW tidak bisa disempitkan. Karenanya jihad sebagai perjuangan di jalan Allah tidak mengambil bentuk tunggal, perang. Jihad bisa mengambil banyak bentuk.

Dalam karyanya, Kiai Afif memberikan catatan kaki pada judul bab “jihad” dengan kata “qitali”, jihad bermakna perang. Dengan kategori jihad qitali, Kiai Afif mengisyaratkan adanya kategori “jihad ghairu qitali”, jihad yang bukan perang. Artinya selain perang, lapangan jihad lainnya masih terbuka lebar dan menunggu partisipasi umat Islam laki-laki dan perempuan.

Sahabat Aisyah RA pernah ditanya soal jihad perempuan. Ia menjawab, “Jihad perempuan itu adalah menunaikan ibadah haji.” (Lihat Muhammad Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, 593-594, Darul Basyair, 1999).

Mengapa perempuan tidak diwajibkan jihad perang? Syekh Wahbah Az-Zuhaili menyatakan bahwa waktu perempuan sudah cukup untuk berkhidmah kepada suami. Dari sini, kita bisa berkata bahwa Islam membuka seluas-luasnya pelbagai bentuk lapangan jihad selain perang untuk perempuan. Di sini kesempatan bagi perempuan terbuka luas dan membutuhkan pengorbanan yang tidak ringan.

Karenanya sebuah kekeliruan besar ketika seorang perempuan memutuskan untuk meninggalkan suami lalu menggabungkan diri dengan gerakan yang diakui sepihak sebagai jihad qitali. Ulama justru memandang putusan itu sebagai bentuk nusyuz (durhaka) istri terhadap suami. Imam Nawawi, salah seorang pemuka fikih madzhab Syafi’i menyebutkan sejumlah praktik durhaka istri terhadap suami.

“Keluar dari rumah, menolak tinggal di rumah, menolak untuk bersedap-sedapan dengan suami di mana upaya suami membujuk istrinya kembali taat tidak membuahkan hasil karena penolakan istri, sudah cukup menjadi dakwaan atas kedurhakaan istri.” (Lihat Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa ‘Umadatul Muftiyin, Darul Fikr, Beirut, juz 6, halaman 347, 2005).

Baik juga Penulis mengutip peta jihad yang dikemukakan Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi. Dalam wawancara khusus dengan Penulis, Kiai Masdar mengatakan, “Perang adalah short term jihad. Perang itu perjuangan jangka pendek ketika perdamaian tidak bisa diwujudkan. Tetapi long term jihad (perjuangan jangka panjang) ini yang menjadi tujuan risalah Nabi Muhammad SAW.”

Short term jihad, kata Kiai Masdar, hanya dibenarkan pada posisi bertahan, bukan menyerang lawan. Sedangkan long term jihad membutuhkan perencanaan yang matang karena perjuangan ini berdurasi panjang tak terbatas.

Kiai Masdar menyebut gerakan keadilan, perjuangan kesejahteraan, gerakan toleransi beragama, perbaikan pendidikan, peningkatan gizi, gerakan persaudaraan, gerakan akhlaq, gerakan kesehatan, gerakan pencerahan, gerakan menjaga lingkungan hidup sebagai long term jihad.

Tantangan ke depan adalah bagaimana agar fenomena di atas tidak terulang bagi para istri dan juga suami? Di sinilah para pemuka agama dan juga umat Islam perlu melakukan long term jihad.

(Oleh: Alhafiz Kurniawan, Pengasuh Rubrik Ubudiyah di NU Online).

(Visited 378 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *