Hukum Jasa Penukaran Uang Baru

SyariahCenter.com – Menjelang Idul Fitri, masyarakat berbondong menukarkan uangnya dengan uang pecahan baru. Tradisi berbagi kepada kerabat dengan pecahan uang baru sudah terjadi selama bertahun-tahun.

Memanfaatkan peluang ini, muncul banyak jasa penukaran uang pecahan baru. Ada yang resmi dari Bank Indonesia, ada pula yang dilakukan masyarakat dengan membuka jasa penukaran di pinggir jalan. Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan para ulama terhadap penukaran uang dengan uang pecahan baru?

Program Studi Ekonomi Syariah IPB pernah mengeluarkan pandangan soal ini. Disebutkan, pada dasarnya jual beli mata uang yang diistilahkan dengan tijarah an-naqd atau al-sharf dibolehkan dalam Islam dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Kebolehan tersebut didasarkan kepada hadis Rasulullah SAW, “Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus semisal dengan semisal, sama dengan sama (beratnya/takarannya), dan dari tangan ke tangan (kontan). Maka jika berbeda jenis-jenisnya, juallah sesuka kamu asalkan dari tangan ke tangan (kontan).” (HR Muslim nomor 1210; a-Tirmidzi III/532; Abu Dawud III/248).

Emas dan perak pada hadis di atas dapat dihukumkan dengan mata uang pada saat ini. Berdasarkan hadis di atas, jika terjadi tukar-menukar antara dua jenis yang sama yaitu emas dengan emas atau perak dengan perak, maka harus memiliki berat atau timbangan yang sama, dan penyerahannya dilakukan secara kontan.

Selanjutnya >>

(Visited 186 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *