Kaidah Fiqih – Syariah Center http://syariahcenter.com All About Syariah News & Activities Thu, 21 Jun 2018 21:06:04 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 Dasar Hukum Sunnahnya Ziarah Kubur http://syariahcenter.com/dasar-hukum-sunnahnya-ziarah-kubur/ http://syariahcenter.com/dasar-hukum-sunnahnya-ziarah-kubur/#respond Tue, 12 Jul 2016 13:47:09 +0000 http://syariahcenter.com/?p=5383 SyariahCenter.com – Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Musa berdoa : رَبِّ أَدْنِنِيْ مِنَ الأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ “Ya Allah dekatkanlah aku ke Tanah Bayt al Maqdis meskipun sejauh lemparan batu”. Kemudian Rasulullah bersabda : “وَاللهِ لَوْ أَنِّيْ عِنْدَهُ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَنْبِ الطَّرِيْقِ عِنْدَ الكَثِيْبِ الأَحْمَرِ” ...

Posting Dasar Hukum Sunnahnya Ziarah Kubur ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
SyariahCenter.com – Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Musa berdoa :

رَبِّ أَدْنِنِيْ مِنَ الأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ

“Ya Allah dekatkanlah aku ke Tanah Bayt al Maqdis meskipun sejauh lemparan batu”.

Kemudian Rasulullah bersabda :

“وَاللهِ لَوْ أَنِّيْ عِنْدَهُ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَنْبِ الطَّرِيْقِ عِنْدَ الكَثِيْبِ الأَحْمَرِ” أخرجه البخاريّ ومسلم

“Demi Allah, jika aku berada di dekat kuburan Nabi Musa niscaya akan aku perlihatkan kuburannya kepada kalian di samping jalan di daerah al Katsib al Ahmar” (H.R. al Bukhari dan Muslim)

Faedah Hadits: Tentang hadits ini al Hafizh Waliyyuddin al ‘Iraqi berkata dalam kitabnya “Tharh at-Tatsrib”: “Dalam hadits ini terdapat dalil kesunnahan untuk mengetahui kuburan orang-orang yang saleh untuk berziarah ke sana dan memenuhi hak-haknya”.

Dan telah menjadi tradisi di kalangan para ulama Salaf dan Khalaf bahwa ketika mereka menghadapi kesulitan atau ada keperluan mereka mendatangi kuburan orang-orang saleh untuk berdoa di sana dan mengambil berhaknya dan setelahnya permohonan mereka dikabulkan oleh Allah. Al Imam asy-Syafi’i ketika ada hajat yang ingin dikabulkan seringkali mendatangi kuburan Abu Hanifah dan berdoa di sana dan setelahnya dikabulkan doanya oleh Allah. Abu ‘Ali al Khallal mendatangi kuburan Musa ibn Ja’far. Ibrahim al Harbi, al Mahamili mendatangi kuburan Ma’ruf al Karkhi sebagaimana diriwayatkan oleh al Hafizh al Khathib al Baghdadi dalam kitabnya “Tarikh Baghdad”. Karena itu para ahli hadits seperti al Hafizh Syamsuddin Ibn al Jazari mengatakan dalam kitabnya ‘Uddah al Hishn al Hashin :

“وَمِنْ مَوَاضِعِ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ قُبُوْرُ الصَّالِـحِيْنَ”.

“Di antara tempat dikabulkannya doa adalah kuburan orang-orang yang saleh “.

Al Hafizh Ibn al Jazari sendiri sering mendatangi kuburan Imam Muslim ibn al Hajjaj, penulis Sahih Muslim dan berdoa di sana sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ali al Qari dalam Syarh al Misykat.

(Ust. Kholilurrahman/ MMN)

Posting Dasar Hukum Sunnahnya Ziarah Kubur ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
http://syariahcenter.com/dasar-hukum-sunnahnya-ziarah-kubur/feed/ 0
Pandangan Fiqih Islam Terhadap Penggunaan Cadar http://syariahcenter.com/pandangan-fiqih-islam-terhadap-penggunaan-cadar/ http://syariahcenter.com/pandangan-fiqih-islam-terhadap-penggunaan-cadar/#respond Tue, 12 Jul 2016 13:34:46 +0000 http://syariahcenter.com/?p=5384 SyariahCenter.com – Saya Andri Hermawan (24). Saya ingin mendapat penjelasan dari NU Online tentang hukum wanita memakai cadar. Ada penjelasan tentang hukum aurat oleh Imam Syafi’i bahwa wanita wajib menutup seluruh tubuh termasuk muka ketika bersama laki-laki bukan mahram. Sementara ada keterangan lain yang menjelaskan bahwa cadar bukanlah ajaran Islam. Saya mohon penjelasannya. Terima kasih.Wassalamu ...

Posting Pandangan Fiqih Islam Terhadap Penggunaan Cadar ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
SyariahCenter.com – Saya Andri Hermawan (24). Saya ingin mendapat penjelasan dari NU Online tentang hukum wanita memakai cadar. Ada penjelasan tentang hukum aurat oleh Imam Syafi’i bahwa wanita wajib menutup seluruh tubuh termasuk muka ketika bersama laki-laki bukan mahram. Sementara ada keterangan lain yang menjelaskan bahwa cadar bukanlah ajaran Islam. Saya mohon penjelasannya. Terima kasih.Wassalamu ‘alaikum wr.wb. (Andri Hermawan/Magelang).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Persoalan memakai cadar (niqab) bagi perempuan sebenarnya adalah masalah yang masih diperselisihkan oleh para pakar hukum Islam. Karena keterbatasan ruang dan waktu kami tidak akan menjelaskan secara detail mengenai perbedaan tersebut. Kami hanya akan menyuguhkan secara global sebagaimana yang didokumentasikan dalam kitab Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah.

Menurut madzhab Hanafi, di zaman sekarang perempuan yang masih muda (al-mar`ah asy-syabbah) dilarang membuka wajahnya di antara laki-laki. Bukan karena wajah itu termasuk aurat, tetapi lebih untuk menghindari fitnah.

فَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ ( الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ ) إِلَى أَنَّ الْوَجْهَ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ ، وَإِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْرَةً فَإِنَّهُ يَجُوزُ لَهَا أَنْ تَسْتُرَهُ فَتَنْتَقِبَ ، وَلَهَا أَنْ تَكْشِفَهُ فَلاَ تَنْتَقِبَ .قَال الْحَنَفِيَّةُ : تُمْنَعُ الْمَرْأَةُ الشَّابَّةُ مِنْ كَشْفِ وَجْهِهَا بَيْنَ الرِّجَال فِي زَمَانِنَا ، لاَ لِأَنَّهُ عَوْرَةٌ ، بَل لِخَوْفِ الْفِتْنَةِ

Artinya, “Mayoritas fuqaha (baik dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat. Jika demikian, wanita boleh menutupinya dengan cadar dan boleh membukanya. Menurut madzhab Hanafi, di zaman kita sekarang wanita muda (al-mar`ah asy-syabbah) dilarang memperlihatkan wajah di antara laki-laki. Bukan karena wajah itu sendiri adalah aurat tetapi lebih karena untuk mengindari fitnah,” (Lihat Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, juz XLI, halaman 134).

Selanjutnya >>

Posting Pandangan Fiqih Islam Terhadap Penggunaan Cadar ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
http://syariahcenter.com/pandangan-fiqih-islam-terhadap-penggunaan-cadar/feed/ 0
Bolehkah Puasa Syawal Digabung Dengan Qadla’ Puasa Ramadlan? http://syariahcenter.com/bolehkah-puasa-syawal-digabung-qadla-puasa-ramadlan/ http://syariahcenter.com/bolehkah-puasa-syawal-digabung-qadla-puasa-ramadlan/#respond Wed, 06 Jul 2016 15:11:38 +0000 http://syariahcenter.com/?p=5336 SyariahCenter.com – Salah satu puasa sunnah adalah puasa 6 hari di bulan Syawal. Umumnya dilakukan mengiringi Idul Fitri, yaitu dimulai pada 2 Syawal dan seterusnya selama 6 hari. Tetapi, diperbolehkan juga mengakhirkannya. Ada persoalan lain bagi orang yang masih memiliki tanggungan puasa Ramadlan, apakah diperbolehkan puasa 6 hari di bulan syawal sekaligus mengqadla’ puasa Ramadlan ...

Posting Bolehkah Puasa Syawal Digabung Dengan Qadla’ Puasa Ramadlan? ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
SyariahCenter.com – Salah satu puasa sunnah adalah puasa 6 hari di bulan Syawal. Umumnya dilakukan mengiringi Idul Fitri, yaitu dimulai pada 2 Syawal dan seterusnya selama 6 hari. Tetapi, diperbolehkan juga mengakhirkannya.

Ada persoalan lain bagi orang yang masih memiliki tanggungan puasa Ramadlan, apakah diperbolehkan puasa 6 hari di bulan syawal sekaligus mengqadla’ puasa Ramadlan yang ditinggalkan.

Dalam hal ini, ulama memperbolehkan menggabung niat puasa 6 hari bulan syawal dengan qadha ramadhan. Hal itu sebagaimana dijelaskan olehImam Romli. Puasa yang demikian, keduanya mendapatkan pahala.

Pendapat berbeda lain kemukakan oleh Abu Makhromah, ia mengatakan tidak mendapatkan pahala keduanya bahkan tidak sah.

Syaikh Al-Bakri al-Dimyathi didalam I’anathu Thalibin menjelaskan:

قال شيخنا كشيخه والذي يتجه أن القصد وجود صوم فيها فهي كالتحية فإن نوى التطوع أيضا حصلا وإلا سقط عنه الطلب
( وقوله كالتحية ) أي فإنها تحصل بفرض أو نفل غيرها لأن القصد شغل البقعة بالطاعة وقد وجدت ( قوله فإن نوى التطوع أيضا ) أي كما أنه نوى الفرض ( وقوله حصلا ) أي التطوع والفرض أي ثوابهما ( قوله وإلا ) أي وإن لم ينو التطوع بل نوى الفرض فقط ( وقوله سقط عنه الطلب ) أي بالتطوع لاندراجه في الفرض

“Berkata Guru kami seperti guru beliau : pendapat yang memiliki wajah penyengajaan dalam niat (dalam masalah ini) adalah adanya puasa didalamnya maka sama seperti shalat tahiyyat masjid bila diniati kesunahan kedua-duanya juga mendapatkan pahala bila tidak diniati maka gugur tuntutannya” (Keterangan seperti shalat tahiyyat masjid) artinya shalat tahiyyah bisa berhasil ia dapatkan saat ia menjalani kewajiban shalat fardhu atau sunnah lainnya karena tujuan niat (dalam shalat tahiyyah masjid) adalah terdapatnya aktifitas ibadah di masjid dan ini sudah terjadi.

Selanjutnya >>

Posting Bolehkah Puasa Syawal Digabung Dengan Qadla’ Puasa Ramadlan? ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
http://syariahcenter.com/bolehkah-puasa-syawal-digabung-qadla-puasa-ramadlan/feed/ 0
Ini Cara Niat Puasa 6 Hari Bulan Syawal http://syariahcenter.com/cara-niat-puasa-6-hari-bulan-syawal/ http://syariahcenter.com/cara-niat-puasa-6-hari-bulan-syawal/#respond Wed, 06 Jul 2016 15:07:55 +0000 http://syariahcenter.com/?p=5335 SyariahCenter.com –  Puasa 6 hari di bulan Syawal, tepatnya setelah hari raya Idul Fitri merupakan bagian daripada puasa sunnah. Sebagaimaan puasa-puasa yang lainnya, puasa sunnah dibulan syawal juga harus berniat. Perlu diketahui bahwa ada perbedaan antara waktu niat puasa wajib (seperti puasa Ramadlan) dengan niat puasa Sunnah. Perbedaannya adalah puasa wajib, niatnya harus dilakukan dimalam ...

Posting Ini Cara Niat Puasa 6 Hari Bulan Syawal ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
SyariahCenter.com –  Puasa 6 hari di bulan Syawal, tepatnya setelah hari raya Idul Fitri merupakan bagian daripada puasa sunnah. Sebagaimaan puasa-puasa yang lainnya, puasa sunnah dibulan syawal juga harus berniat. Perlu diketahui bahwa ada perbedaan antara waktu niat puasa wajib (seperti puasa Ramadlan) dengan niat puasa Sunnah.

Perbedaannya adalah puasa wajib, niatnya harus dilakukan dimalam hari, mulai dari terbenam matahari sampai terbit fajar. Sedangkan puasa sunnah, niat boleh dilakukan sebelum terbit fajar asalkan belum tergelincir matahari dan belum memakan sesuatu apapun.

Bagaimana niat puasa Sunnah 6 hari bulan syawal?. Pada hakikatnya niat dilakukan didalam hati dan boleh dengan bahasa apapun. Oleh karena itu, adanya niatan/ keinginan/ kesengajaan didalam hati untuk puasa sunnah itu sudah mencukupi.

Bila niat puasa sunnah dilakukan dimalam hari maka redaksinya arabnya sebagai berikut :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ سُنّةً لِلّهِ تَعَالَى

NAWAITU SHAUMA GHADIN ‘AN SITTATIN MIN SYAWWAALIN SUNNATAN LILLAAHI TA’LA. Artinya : “Saya niat berpuasa besok dari enam hari di bulan syawal karena Allah Ta’ala”.

Bila niatnya dilakukan setelah terbit Fajar, cukup niatkan didalam hati semisal “Saya niat puasa syawal karena Allah Ta’ala” atau semisalnya.

Adakah pahalanya? Bila niat baru disengajakan dipagi hari atau disiang hari sebelum tergelincir matahari maka pahala puasa yang diperboleh adalah dimulai sejak niat telah dihadirkan didalam hatinya, waktu sebelum hadirnya niat, tidak ada pahalanya. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Saw tentang niat: إنما الأعمال بالنيات / “segala perbuatan itu berkaitan dengan niat masing-masing”.

Oleh karena itu, sebelum adanya niat, belum dicatat pahala baginya, sedangkan setelah adanya niat, barulah tercatat pahala untuknya.

(Ibnu Manshur/ MMN)

Posting Ini Cara Niat Puasa 6 Hari Bulan Syawal ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
http://syariahcenter.com/cara-niat-puasa-6-hari-bulan-syawal/feed/ 0
Apakah Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal Harus Berurutan? http://syariahcenter.com/apakah-puasa-6-hari-bulan-syawal-harus-berurutan/ http://syariahcenter.com/apakah-puasa-6-hari-bulan-syawal-harus-berurutan/#respond Wed, 06 Jul 2016 15:01:57 +0000 http://syariahcenter.com/?p=5334 SyariahCenter.com – Setelah selesai bulan Ramadlan, umat Islam diharamkan berpuasa pada tanggal 1 Syawal, namun kemudian disunnahkan berpuasa kembali selama 6 hari di bulan Syawal. Imam al-Nawawi didalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan tentang hadits puasa 6 hari dibulan Syawal sebagai berikut: قال صلى اللَّهُ عليه وسلم من صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا من شَوَّالٍ كان ...

Posting Apakah Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal Harus Berurutan? ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
SyariahCenter.com – Setelah selesai bulan Ramadlan, umat Islam diharamkan berpuasa pada tanggal 1 Syawal, namun kemudian disunnahkan berpuasa kembali selama 6 hari di bulan Syawal.

Imam al-Nawawi didalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan tentang hadits puasa 6 hari dibulan Syawal sebagai berikut:

قال صلى اللَّهُ عليه وسلم من صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا من شَوَّالٍ كان كَصِيَامِ الدَّهْرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ ) فيه دلالة صريحة لمذهب الشافعى وأحمد وداود وموافقيهم في استحباب صوم هذه الستة وقال مالك وأبو حنيفة يكره ذلك قال مالك في الموطأ ما رأيت أحدا من اهل العلم يصومها قالوا فيكره لئلا يظن وجوبه ودليل الشافعى وموافقيه هذا الحديث الصحيح الصريح واذا ثبتت السنة لا تترك لترك بعض الناس أو أكثرهم أو كلهم لها وقولهم قد يظن وجوبها ينتقض بصوم عرفة وعاشوراء وغيرهما من الصوم المندوب قال أصحابنا والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر فان فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى اواخره حصلت فضيلة المتابعة لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال قال العلماء وانما كان ذلك كصيام الدهر لان الحسنة بعشر امثالها فرمضان بعشرة أشهر والستة بشهرين

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) 6 hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).

Dalil ini yang dijadkan pijakan kuat madzhab Syafi’i, Ahmad bin Hanbal dan Abu Daud tentang kesunahan menjalankan puasa 6 hari dibulan syawal, sedangkkan Abu Hanifah memakruhkannya, Imam Malik dalam al-Muwaththa’ berkata “aku tidak melihat seorang pun daripada ahli ilmu yang mempuasainya. Mereka memakruhkannya agar tidak memberi prasangka akan wajibnya puasa tersebut. Sedangkan dalil Imam al-Syaf’i dan menyetujuinya adalah hadits shahih sharih ini, sehingga bila telah tsabit maka kita tidak meninggalkan karena adanya sebagian orang atau kebanyakan orang meninggalkannya…

Para pengikut / ashhab Syafi’i menilai yang lebih utama menjalani puasa 6 hari berurutan secara terus-menerus (mulai hari ke-2 syawal), namun andaikan dilakukan dengan dipisah-pisah atau dilakukan diakhir bulan syawal pun juga masih mendapatkan keutamaan sebagaimana hadits diatas.

Ulama berkata “alasan menyamainya puasa setahun penuh berdasarkan karena satu kebaikan menyamai 10 kebaikan, maka bulan ramadhan menyamai 10 bulan lain (sehingga hasilnya 10 bulan) dan 6 hari dibulan syawal menyamai 2 bulan lainnya (6 x 10 = 60 = 2 bulan). 10 bulan + 2 bulan = 12 bulan (satu tahun).

(Ibnu Manshur/ Piss-KTB/ MMN)

Posting Apakah Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal Harus Berurutan? ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
http://syariahcenter.com/apakah-puasa-6-hari-bulan-syawal-harus-berurutan/feed/ 0
Ini Hukum Takbiran Pada Hari Lebaran http://syariahcenter.com/hukum-takbiran-hari-lebaran/ http://syariahcenter.com/hukum-takbiran-hari-lebaran/#respond Wed, 06 Jul 2016 04:51:41 +0000 http://syariahcenter.com/?p=5302 SyariahCenter.com – Saat menjelang lebaran suara takbir bergema di mana-mana: masjid, jalan, bahkan pasar. Ada yang melafalkannya secara langsung dan ada pula yang memutar kaset takbiran. Bahkan di kebanyakan daerah, tua dan muda langsung turun ke jalan, takbir keliling, menggemakan suara takbir pertanda Ramadhan sudah berakhir. Terkhusus bagi masyarakat Nusantara, ‘Idul Fithri merupakan momen yang ...

Posting Ini Hukum Takbiran Pada Hari Lebaran ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
SyariahCenter.com – Saat menjelang lebaran suara takbir bergema di mana-mana: masjid, jalan, bahkan pasar. Ada yang melafalkannya secara langsung dan ada pula yang memutar kaset takbiran. Bahkan di kebanyakan daerah, tua dan muda langsung turun ke jalan, takbir keliling, menggemakan suara takbir pertanda Ramadhan sudah berakhir.

Terkhusus bagi masyarakat Nusantara, ‘Idul Fithri merupakan momen yang sangat istimewa dan berharga. Hari itu ajang silaturahmi, maaf-maafan, dan berkumpul bersama karib-kerabat. Karenanya, sebagian orang rela menghabiskan waktu untuk mudik supaya dapat merayakan lebaran di kampung halaman. Meskipun kita tahu bahwa mudik bukanlah perkara mudah.

Dalam kitab Fathul Qarib disebutkan bahwa takbir pada malam hari raya disunahkan. Kesunahan ini ditujukan untuk semua orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan, mukim ataupun musafir, sedang berada di rumah, masjid, ataupun di pasar. Muhammad bin Qasim Al-Ghazi mengatakan:

ويكبر ندبا كل من ذكر وأنثى وحاضر ومسافر في المنازل والطرق والمساجد والأسواق، من غروب الشمس من ليلة العيد، أي: عيد الفطر، ويستمر هذا التكبير إلى أن يدخل الإمام في الصلاة للعيد، ولا يسن التكبير ليلة عيد الفطر عقب الصلاة، ولكن النووي في “الأذكار” اختار أنه سنة

Artinya, “Disunahkan takbir bagi laki-laki dan perempuan, musafir dan mukim, baik yang sedang di rumah, jalan, masjid, ataupun pasar. Dimulai dari terbenam matahari pada malam hari raya berlanjut sampai shalat Idul Fithri. Tidak disunahkan takbir setelah shalat Idul Fithri atau pada malamnya, akan tetapi menurut An-Nawawi di dalam Al-Azkar hal ini tetap disunahkan.”

Selanjutnya >>

Posting Ini Hukum Takbiran Pada Hari Lebaran ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
http://syariahcenter.com/hukum-takbiran-hari-lebaran/feed/ 0
Bolehkah Memberi Zakat Kepada Orang Yang Malas Shalat? http://syariahcenter.com/bolehkah-memberi-zakat-orang-malas-shalat/ http://syariahcenter.com/bolehkah-memberi-zakat-orang-malas-shalat/#respond Sat, 02 Jul 2016 00:02:19 +0000 http://syariahcenter.com/?p=5228 SyariahCenter.com – Selain puasa dan shalat tarawih, Ramadhan juga identik dengan zakat. Pada bulan yang penuh berkah ini Allah SWT mewajibkan zakat kepada hamba-Nya. Ibnu ‘Abbas mengatakan, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang puasa dari kesia-siaan dan kekejian dan sebagai rejeki bagi orang miskin. Siapa yang membayarkannya sebelum shalat (Idhul Fitri) diterima zakatnya. ...

Posting Bolehkah Memberi Zakat Kepada Orang Yang Malas Shalat? ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
SyariahCenter.com – Selain puasa dan shalat tarawih, Ramadhan juga identik dengan zakat. Pada bulan yang penuh berkah ini Allah SWT mewajibkan zakat kepada hamba-Nya. Ibnu ‘Abbas mengatakan, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang puasa dari kesia-siaan dan kekejian dan sebagai rejeki bagi orang miskin. Siapa yang membayarkannya sebelum shalat (Idhul Fitri) diterima zakatnya. Adapun yang membayarnya setelah shalat, maka status pemberiannya dianggap seperti sedekah biasa, (HR Ibnu Majah).

Tujuan zakat fitrah adalah untuk membersihkan jiwa orang berpuasa dan sekaligus momen untuk berbagi kepada orang miskin. Jangan sampai pada hari kebahagiaan itu, masih ditemukan orang miskin yang kelaparan dan meminta-minta. Maka dari itu, zakat mesti dibayarkan sebelum shalat ‘idhul fitrah. Dalam surat At-Taubah ayat 60 disebutkan, terdapat delapan golongan yang berhak menerima zakat. Mereka adalah orang fakir, miskin, pengurus zakat, muallaf, orang yang memerdekan budak, orang berutang, fi sabilillah, dan ibnu sabil.

Banyak yang bertanya, bagaimana jika orang yang berhak menerima zakat tersebut malas dan suka meninggalkan shalat? Apakah orang tersebut masih berhak menerima zakat? Pertanyaan serupa juga pernah diajukan kepada Imam An-Nawawi. Dalam kitabnya Fatawa An-Nawawi ia menjelaskan sebagai berikut.

إن كان بالغا تاركا للصلاة، واستمر على ذلك إلى حين دفع الزكاة لم يجز دفعها إليه، لأنه محجور عليه بالسفه فلا يصح قبضه، ولكن يجوز دفعها إلى وليه فيقبضها لهذا السفيه، وإن كان بلغ مصليا رشيدا، ثم طرأ ترك الصلاة ولم يحجر القاضي عليه جاز دفعها إليه، وصح قبضه لنفسه، كما تصح جميع تصرفاته

Artinya, “Bila seseorang sudah baligh dan tidak mengerjakan shalat, kemudian kondisi ini terus berlanjut sampai penyerahan zakat, maka tidak boleh memberikan zakat kepadanya. Ia termasuk kategori orang yang hartanya ditahan (dikontrol), karena masih bodoh (belum pandai memanfaatkan hartanya) dan tidak diperbolehkan memegang uang sendiri. Namun diperbolehkan memberikan zakat kepada walinya dan memegang pemberian zakat tersebut.

Lain halnya dengan orang baligh, berakal, dan sudah shalat, kemudian tiba-tiba tidak mengerjakan shalat dan qadhi tidak menahan hartanya, maka diperbolehkan membayar zakat kepada golongan ini. Ia juga berhak untuk memegang uangnya sendiri dan seluruh bentuk tasharruf-nya (tindakan ekonomi) sah.”

Selanjutnya >>

Posting Bolehkah Memberi Zakat Kepada Orang Yang Malas Shalat? ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
http://syariahcenter.com/bolehkah-memberi-zakat-orang-malas-shalat/feed/ 0
Begini Cara Menghitung Zakat Profesi http://syariahcenter.com/begini-cara-menghitung-zakat-profesi/ http://syariahcenter.com/begini-cara-menghitung-zakat-profesi/#respond Fri, 01 Jul 2016 00:33:56 +0000 http://syariahcenter.com/?p=5188 SyariahCenter.com – Zakat penghasilan atau zakat profesi (al-mal al-mustafad) adalah zakat yang dikenakan pada setiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun bersama dengan orang/lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang) halal yang memenuhi nisab (batas minimum untuk wajib zakat). Contohmya adalah pejabat, pegawai negeri atau swasta, dokter, konsultan, advokat, dosen, makelar, seniman ...

Posting Begini Cara Menghitung Zakat Profesi ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
SyariahCenter.com – Zakat penghasilan atau zakat profesi (al-mal al-mustafad) adalah zakat yang dikenakan pada setiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun bersama dengan orang/lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang) halal yang memenuhi nisab (batas minimum untuk wajib zakat). Contohmya adalah pejabat, pegawai negeri atau swasta, dokter, konsultan, advokat, dosen, makelar, seniman dan sejenisnya.

Hukum zakat penghasilan berbeda pendapat antar ulama fiqh. Mayoritas ulama madzhab empat tidak mewajibkan zakat penghasilan pada saat menerima kecuali sudah mencapai nisab dan sudah sampai setahun (haul), namun para ulama mutaakhirin seperti Syekh Abdurrahman Hasan, Syekh Muhammad Abu Zahro, Syekh Abdul Wahhab Khallaf, Syekh Yusuf Al Qardlowi, Syekh Wahbah Az-Zuhaili, hasil kajian majma’ fiqh dan fatwa MUI nomor 3 tahun 2003 menegaskan bahwa zakat penghasilan itu hukumnya wajib.

Hal ini mengacu pada pendapat sebagian sahabat (Ibnu Abbas, Ibnu Masud dan Mu’awiyah), Tabiin (Az-Zuhri, Al-Hasan Al-Bashri, dan Makhul) juga pendapat Umar bin Abdul Aziz dan beberpa ulama fiqh lainnya. (Al-fiqh Al-Islami wa ‘Adillatuh, 2/866)

Juga berdasarkan firman Allah SWT: “… Ambilah olehmu zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” (QS. At-Taubah 9:103) dan firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…” (QS. Al-Baqarah. 2:267)

Selanjutnya >>

Posting Begini Cara Menghitung Zakat Profesi ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
http://syariahcenter.com/begini-cara-menghitung-zakat-profesi/feed/ 0
Hukum Minum Pil Tunda Menstruasi Agar Bisa Berpuasa http://syariahcenter.com/hukum-minum-pil-tunda-menstruasi-agar-berpuasa/ http://syariahcenter.com/hukum-minum-pil-tunda-menstruasi-agar-berpuasa/#respond Fri, 01 Jul 2016 00:25:14 +0000 http://syariahcenter.com/?p=5189 SyariahCenter.com – Puasa Ramadhan merupakan kewajiban yang disyariatkan oleh Islam. Tetapi kewajiban ini bersyarat bagi mereka yang suci dari haidh atau menstruasi. Untuk itu mereka yang tengah mengalami menstruasi haram berpuasa. Tetapi ia mesti mengqadha utang puasanya di luar bulan puasa. Perihal konsumsi obat-obatan dan ramuan sejenisnya untuk mengatur siklus menstruasi ini belum menjadi perbincangan ...

Posting Hukum Minum Pil Tunda Menstruasi Agar Bisa Berpuasa ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
SyariahCenter.com – Puasa Ramadhan merupakan kewajiban yang disyariatkan oleh Islam. Tetapi kewajiban ini bersyarat bagi mereka yang suci dari haidh atau menstruasi. Untuk itu mereka yang tengah mengalami menstruasi haram berpuasa. Tetapi ia mesti mengqadha utang puasanya di luar bulan puasa.

Perihal konsumsi obat-obatan dan ramuan sejenisnya untuk mengatur siklus menstruasi ini belum menjadi perbincangan para fuqaha di zaman dahulu. Kasus ini baru dibahas oleh para pakar fikih kontemporer.

Masalah ini setidaknya pernah dibahas oleh Guru Besar Ushul Fiqh di Fakultas Syariah dan Hukum di Thantha, Mesir, Prof Dr Muhammad Ibrahim Al-Hafnawi. Menurut Ibrahim Al-Hafnawi, menstruasi merupakan fithrah yang ditakdirkan Allah SWT bagi kalangan wanita. Karenanya seorang muslimah tidak menanggung dosa ketika ia tidak berpuasa saat menstruasi. Ia wajib mengganti utang puasa itu di luar bulan suci Ramadhan. Inilah yang dilakukan muslimah-muslimah di zaman dahulu. Hal ini sejalan dengan fithrah yang ditakdirkan Allah SWT bagi kalangan perempuan.

Adapun agama Islam tidak melarang perempuan mengonsumsi pil penunda menstruasi agar mereka dapat mengikuti ibadah puasa Ramadhan. Pasalnya tidak ada dalil spesifik dari Al-Quran, hadits, ijmak, maupun qiyas yang melarang konsumsi pil tersebut.

Selanjutnya >>

Posting Hukum Minum Pil Tunda Menstruasi Agar Bisa Berpuasa ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
http://syariahcenter.com/hukum-minum-pil-tunda-menstruasi-agar-berpuasa/feed/ 0
Hukum Membayar Zakat Fitrah Dalam Bentuk Uang http://syariahcenter.com/hukum-membayar-zakat-fitrah-bentuk-uang/ http://syariahcenter.com/hukum-membayar-zakat-fitrah-bentuk-uang/#respond Fri, 01 Jul 2016 00:08:34 +0000 http://syariahcenter.com/?p=5192 SyariahCenter.com – Ulama Syafi’iyyah sepakat bahwa zakat fitrah tidak boleh diberikan kepada penerima zakat (mustahiq) dalam bentuk uang. Meskipun seperti itu, praktiknya di beberapa daerah di Indonesia masih banyak yang kurang memahami kesepakatan ulama ini. Menyikapi fenomena itu, Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggungharjo, Grobogan Jawa Tengah, memberikan penjelasan terkait zakat dengan ...

Posting Hukum Membayar Zakat Fitrah Dalam Bentuk Uang ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
SyariahCenter.com – Ulama Syafi’iyyah sepakat bahwa zakat fitrah tidak boleh diberikan kepada penerima zakat (mustahiq) dalam bentuk uang. Meskipun seperti itu, praktiknya di beberapa daerah di Indonesia masih banyak yang kurang memahami kesepakatan ulama ini.

Menyikapi fenomena itu, Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggungharjo, Grobogan Jawa Tengah, memberikan penjelasan terkait zakat dengan menggunakan uang atau melalui uang. Terma melalui uang artinya alat tukar tersebut hanya sebagai perantara sehingga penyaluran zakat tetap dalam bentuk makanan pokok.

Di sini panitia menjelaskan bahwa konsep-konsep tersebut sesuai dengan ketentuan syariat, tapi masyarakat tetap dimudahkan yaitu bisa berangkat dari rumah dengan membawa uang menuju stand/pos zakat setempat.

Pertama, panitia zakat menyuplai beras dengan membeli atau bermitra kepada salah satu toko penyedia beras di mana setiap muzakki yang datang membawa uang akan dilayani jual beli murni dengan beras yang disediakan oleh panitia terlebih dahulu. Setelah muzakki menerima beras, transaksi penerimaan zakat baru kemudian dijalankan sebagaimana biasanya.

Sementara ini, ada beberapa tempat yang sudah menjalankan sistem jual beli mirip seperti di atas, namun kesalahannya terletak pada beras yang dibuat transaksi jual beli bukan beras murni persediaan panitia, tapi beras yang telah diterima panitia dari hasil zakat beras orang lain yang terlebih dahulu datang kemudian beras zakat itu dijual kembali kepada muzakki lain yang datang kemudian. Menjual beras zakat seperti ini tidak diperbolehkan.

Selanjutnya >>

Posting Hukum Membayar Zakat Fitrah Dalam Bentuk Uang ditampilkan lebih awal di Syariah Center.

]]>
http://syariahcenter.com/hukum-membayar-zakat-fitrah-bentuk-uang/feed/ 0