Dari Syukuur ke Syakuur

SyariahCenter.com – Sayyidatina ‘Aisyah mempertanyakan ibadah-ibadah Nabi sedemikian aktif, baik pada siang hari, terlebih saat malam hari, mengapa engkau melakukan yang sedemikian itu? Bukankah engkau adalah Nabi dan Rasul pilihan Allah yang dijamin surga? Nabi menjawab dengan jawaban pendek, tetapi padat arti: Afalam akuna ‘abdan syakuran? (Tidakkah aku sebagai hamba yang bersyukur?) Redaksi yang digunakan Nabi ialah syakuur, bukan syukuur.

Kata syukuur dan syakuur sama-sama berasal dari akar kata syakara-yasykuru yang berarti bersyukur. Syukuur ialah mensyukuri segala nikmat yang Tuhan berikan kepada kita, seperti kesehatan, rezki, jabatan, keturunan, dan keluarga yang sakinah. Sedangkan, syakuur ialah mensykuri segala sesuatu yang datang dari Tuhan, termasuk musibah, penderitaan, dan kekecewaan.

Bersyukur terhadap berbagai nikmat Tuhan (syukuur) adalah sesuatu yang biasa. Akan tetapi, mensyukuri penderitaan, musibah, dan kekecewaan (syakuur) itu luar biasa. Syukuur banyak dilakukan orang, tetapi syakuur amat langka sebagaimana dikatakan dalam ayat: Wa qalil min ‘ibadiy al-syakuur (Hanya sedikit sekali di antara hambaku yang mampu mencapai tingkat syakur/QS Saba’ [34]: 13).

Bersyukur dalam arti syukr banyak dipahami secara keliru. Banyak orang yang menyangka bersyukur ialah mengucapkan tahmid (alhamdulillah), tetapi sesungguhnya itu bukan syukur melainkan hanya tahmid, memuji-muji Tuhan.

Bersyukur ialah memberikan sebagian nikmat Tuhan kepada hamba-Nya yang membutuhkannya. Misalnya, gaji kita dinaikkan atau kita memperoleh keuntungan usaha dagang maka cara mensyukurinya kita harus mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah kepada orang-orang yang layak menerimanya atau sebagaimana ditunjuk oleh Syara’.

Selanjutnya >>
(Visited 65 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *