Dari Shabir ke Mashabir

SyariahCenter.com – Nabi Ayub dicoba dengan penyakit yang menjijikan. Sekujur tubuhnya hancur, membusuk, dan dikerumuni ulat belatung. Yang lebih menyakitkan ialah istrinya pun ikut mengucilkannya. Saat itu ia berjanji akan mencambuk isterinya 100 kali seandainya penyakitnya sembuh. Nabi ayub sabar menjalani penyakit yang dideritanya meskipun sudah berusaha untuk mencari tabib untuk menyembuhkan penyakitnya.

Ia juga sabar ketika dibuang dan dikucilkan masyarakat, meskipun bersedih karena keluarga terdekatnya ikut mengucilkannya. Kesabaran Nabi Ayub pada tingkat ini disebut shaabir. Setelah sekian lama hidup di gua pengasingan, ia mulai bersahabat dengan lingkungannya. Ia juga bersahabat dengan penyakitnya, termasuk kerumunan belatung yang menggerogoti dirinya.

Konon ia pernah memungut kembali belatung yang yang jatuh dari dirinya dengan mengatakan, kalian dulu musuhku, sekarang menjadi sahabatku. Hanya kalianlah yang mau menemani aku di dalam kesunyain gua ini. Bahkan ia menikmati penyakit dan kesendiriannya di dalam gua. Kesabaran Nabi Ayub pada tingkat ini sudah dapat disebut mashaabir.

Suatu ketika Nabi Ayub diperdengarkanlah sebuah teriakan: “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum” (Q.S. Shad/38:42). Setelah itu tiba-tiba memancar air jernih dan sejuk dari bekas tumitnya. Nabi Ayub minum dan mandi dari air itu dan tiba-tiba ia merasakan perubahan yang amat besar di dalam dirinya.

Ia tidak menyaksikan lagi luka di dalam dirinya dan sahabat-sahabat belatungnya tiba-tiba menghilang entah kemana. Bahkan bekas-bekas luka pun tidak tampak pada diri Nabi Ayub. Ia lalu sembah sujud atas kasih sayang Allah SWT terhadap dirinya. Sumur itu sudah dipugar tidak jauh dari makam Imam al-Nawawi, pengarang kitab wajib pesantren “Riyadh al-Shalihin” di luar kota Suriah.

Selanjutnya >>
(Visited 61 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *