Begini Ketika Sahabat Nabi Melihat Pejabat Yang Hartanya Bertambah

SyariahCenter.com – Ketua Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Rumadi Ahmad mengatakan, persoalan kebangsaan seperti korupsi tidak bisa diatasi oleh satu atau dua lembaga saja. Menurutnya, semua lembaga dan masyarakat harus saling bersinergi untuk memberantas korupsi.

“Persoalan kebangsaan itu tidak hanya bisa diatasi oleh satu dua lembaga, tetapi perlu melibatkan seluruh komponen komponen bangsa,” kata Rumadi saat memberikan sambutan dalam acara Peluncuran dan Diskusi Buku Jihad Nahdlatul Ulama Melawan Korupsi di lantai 8 gedung PBNU, Kamis (23/6).

Ia menilai, sejak dahulu Nahdlatul Ulama sudah melakukan beberapa upaya terkait dengan pemberantasan tindak pidana korupsi. Baginya, hadirnya buku ini merupakan upaya untuk memperkuat upaya pemberantasan korupsi, karena tantangan pemberantasan korupsi semakin berat.

“Buku ini merupakan salah satu ikhtiar bagaimana kita memperkuat gerakan anti korupsi terutama di lingkungan Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Senada dengan Rumadi, Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Saiq Aqil Siroj menyebutkan bahwa salah satu hasil Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (Munas NU) di Kempek Cirebon tahun 2012 adalah himbauan kepada seluruh warga NU untuk tidak membayar pajak manakala pajak tersebut dikorupsi.

“Kalau pajak itu dikorupsi, maka PBNU menghimbau warga NU tidak usah bayar pajak,” jelas Kiai Said.

Lebih lanjut, Kiai Said menceritakan dua model kepemimpinan dua khalifah pengganti Rasulullah dalam menghadapi para pejabat negara yang hartanya bertambah setelah mereka menjadi pejabat. Pertama, model Umar bin Khattab.

“Ada khalifah yang sangat keras sekali. Kalau hanya ada laporan bahwa gubernur A sekarang kekayaannya bertambah (setelah menjadi pejabat), langsung dipecat,” papar kiai jebolan pesantren Lirboyo tersebut.

Kedua, model Ustman bin Affan. Kiai Said menceritakan bahwa gaya Ustman bin Affan cukup longgar dalam menangani kasus bertambahnya harta kekayaan pejabat.

“Yang penting bayar zakat, yang penting peduli dengan fakir miskin. Agak longgar lah,” ucapnya. (Ahmad Muchlishon R/Zunus)

(Visited 106 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *