Begini Kebanggan Menjadi Muslim Di Inggris

Syariahcenter.com – Menjadi seorang Muslim di negara Barat tentu bukan hal yang mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi setiap harinya sehingga hal itu mempengaruhi kondisi psikologis manusia, terutama bagi remaja yang berada pada masa pencarian jati diri.

Hal itu juga dialami oleh beberapa remaja di Wales yang bahkan ada pula yang direkrut menjadi anggota Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) karena tekanan tersebut.

Pada tahun 2013, tiga pemuda meninggalkan Cardiff untuk bergabung dengan ISIS, dengan salah satu dari mereka tewas di Suriah ketika kembali terjadinya serangan awal tahun ini.

Berikut dua pemuda yang menceritakan pengalamannya selama tinggal di Wales sebagai seorang Muslim.

Hira Aslam (18 tahun), mahasiswi jurusan Hukum di Cardiff and Vale College ini memutuskan untuk mengenakan hijab ketika dewasa. Hal ini justru membuat ibunya khawatir anaknya itu bergabung dengan ISIS.

Namun, Hira tahu bahwa ibunya hanya bereaksi berlebihan saja. Hal itu, kata dia, disebabkan bahwa sebelumnya Reyaad Khan ketika menginjak usia 21 tahun tiba-tiba meninggalkan Cardiff dan bergabung dengan ISIS. Tentu kejadian itu membuat ibunya paranoid karena anaknya tiba-tiba memutuskan untuk berhijab.

“Saya tidak berpikir para ekstrimis itu ada hubungannya dengan Islam. Itu tidak menggambarkan Islam sedikit pun. Setiap orang tua mengkhawatirkan karena banyak orang telah pergi dari Cardiff dan aku tahu beberapa orang seperti salah satu anak laki-laki yang baru saja bergabung dengan ISIS dan terbunuh,” ungkapnya dilansir Wales Online, Senin (9/11).

Kakek dan nenek Hira berasal dari Pakistan, dan dia sendiri juga lahir di Penarth. Kendati demikian dia senang hidup menjadi seorang Welsh. Dia mengaku, dia sangat menyukai kue Welsh, dia menyukai rugby, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Wales.

Keluarga Hira sangat menjunjung tinggi budaya Islam. Namun, dia mengaku akan selalu menyeimbangkan kehidupan budaya agamanya dengan budaya Barat tempat dia tinggal, khususnya menjadi seorang Welsh.

Hira kini sedang belajar untuk menjadi seorang pengacara. Untuk menunjang kemampuannya, dia juga bekerja paruh waktu di sebuah firma hukum di Newport. Dia memilih profesi itu karena, pertama, dia terinspirasi oleh bibinya yang juga seorang pengacara dan yang kedua, dia tidak menyukai profesi di bidang medis.

Bahkan pada saat pertama kali dia mengenakan jilbab, dia sempat merasa gugup. Kemudian perasaan itu mereda ketika dia mulai bergabung dengan komunitas muslimah di Cardiff.
Tasnima Quraishi (19 tahun) adalah seorang mahasiswi dan pekerja paruh waktu di Primark Llandaff, Cardiff.

Dia dilahirkan dan dibesarkan di Wales, tapi pada tahun 2006 ia melihat ayahnya asli Bangladesh. Dia melihat dari dialek bahasanya yang tidak seperti orang Wales pada umumnya.

Kendati demikian, dia merasa nyaman hidup di Wales. Dia mengaku merasa aman jika berjalan sendirian di Wales meskipun malam hari. Namun hal itu tidak dia rasakan ketika di Bangladesh, dia merasa tidak aman ketika pergi sendirian pada malam hari di sana.

“Saya bisa pergi di bus atau berbicara dengan orang asing, terutama di Cardiff. “Kalau saya pergi ke Utara selama satu jam, bukan sebagai multikultural, tetapi di Cardiff adalah tempat bercampurnya kultur dan semua orang menerima. Saya belum pernah mengalami apa pun. Cardiff adalah rumah saya,” tuturnya.

Ia juga berencana ingin belajar di jurusan kedokteran gigi di universitas, namun ada jeda setahun antara pendidikannya di perguruan tinggi dan universitas. (bar)

(Visited 231 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *