Anak-Anak Muslim Ini Alami Diskriminasi Akibat Serangan Di Paris

Syariahcenter.com – Banyak orang tua merasa sulit menjelaskan serangan yang terjadi di Paris pada Jumat (13/11) lalu. Terlebih bagi para orangtua Muslim, banyak dari anak-anak mereka mempertanyakan perubahan sikap banyak orang terhadap mereka.

“Saat tiba disekolah Senin (23/11) lalu, beberapa teman memperlakukan saya seperti seorang teroris. Saya kemudian berbicara kepada guru saya, dan ia menjelaskan kepada teman-teman sekelas bahwa menjadi Muslim bukan berarti Anda teroris,” ujar Ayman (9 tahun).

Bocah lainnya, Mohammed (9 tahun) juga mengisahkan hal senada. Ia mengatakan takut teroris datang ke kotanya dan melakukan hal yang sama. Dilansir BBC News, Selasa (24/11), banyak anak-anak Muslim lain di Prancis mengungkapkan mereka takut, terkejut sekaligus jijik dengan ulah para teroris di Paris.

Salah satu anak Shaima ini mengatakan, selama ini Islam mengajarkannya untuk tak mencuri atau memukul. Sementara Alicia-Rim mengatakan Islam mengajarkan untuk memberi serta membantu orang miskin.

Anak-anak yang lebih tua menjelaskan kegelisahan mereka dengan rinci. Mereka juga mengutuk serangan yang menewaskan sekitar 130 jiwa tersebut.

“Sikap terhadap kami telah berubah sejak 13 November. Pada Senin saya naik metro dengan ibu saya yang mengenakan hijab. Saat masuk kereta, saya mendengar seorang wanita mengatakan ‘oh tidak, jangan sekarang’ (menerornya). Saya dan ibu tak mengatakan apa-apa, tapi itu menggangguku,” ujar Abdelkader (13 tahun).

Azziz memiliki cerita yang sama. Menurutnya semua orang kini menganggap Muslim sebagai teroris. Warga menurutnya melihat Muslim dengan pandangan aneh di jalan.

“Mereka gelisah dan memalingkan wajah. Saya merasa mereka takut dengan kami. Mereka pikir kami bisa melakukan hal yang sama, hanya karena kami terlihat seperti orang Arab dan Muslim,” ujar Azziz.

Komentar dari remaja yang lebih tua bahkan telah mencerminkan isu-isu yang lebih komplek. Omar (17 tahun) berkomentar terkait serangan Paris dan respon pemerintah Prancis menyerang Suriah.

“Pemerintah Prancis tak menghormati kami. Mereka melihat kami sebagai imigran, seperti sampah, tak berguna. Para teroris salah membunuh, tapi pemerintah juga mulai membom Suriah. Anda tak bisa melakukan itu! Terbang di atas negara orang dan menjatuhkan bom,” ujarnya.

Ousmane (17 tahun) lain lagi. Menurutnya Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sengaja memanfaatkan kebencian orang dan memupuk perasaan itu. “Mereka mengeksploitasi rasisme di Prancis. Memanfaatkan perpecahan dan Islamophobia,” kata Ousmane.

Annisa (19 tahun) mengatakan, para teroris tak mewakili Islam. Mereka bahkan menurutnya tak memiliki agama. Satu-satunya agama yang dimiliki teroris kata Annisa, adalah teror.

“Mereka mengutip Alquran dan mengambil ayat tentang perang di luar konteks. Mereka lupa ayat-ayat yang mempromosikan toleransi. Semua yang saya tahu tentang toleransi telah ditanamkan dalam diri saya oleh Alquran,” ujar Annisa. (feb)

(Visited 95 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *