Alasan Pastor Asal Inggris Ini Jatuh Cinta Pada Islam

Syariahcenter.com – Idris Tawfiq, seorang Pastor di Inggris, memutuskan brsyahadat. Keputusan tersebut dibuatnya setelah membaca Alquran dan berinteraksi dengan umat Muslim.

Berikut kutipan pidato Idris tentang Islam yang ia sampaikan di British Council, Kairo, seperti dilansir Arabnews.com, Selasa (15/12) :

Saya sangat menikmati menjadi seorang pendeta. Saya dengan senang hati membantu orang-orang selama beberapa tahun. Namun, jauh di dalam hati saya, saya merasakan ada sesuatu yang tidak benar dan saya tidak menyukai itu.

Untungnya, karena kehendak Tuhan, beberapa peristiwa dalam hidup saya membawa saya mendekati Islam. Satu keputusan menghendaki saya harus berhenti dari tugas-tugas saya di Vatikan.

Dan, keputusan itu membawa saya melakukan perjalanan ke Kairo. Ini adalah kebetulan yang sangat penting dalam hidup saya. Perjalanan saya di Kairo adalah pengenalan pertama saya dengan Islam dan Muslim.

Seperti masyarakat Inggris pada umumnya, pengetahuan saya tentang Muslim tidak lebih dari apa yang sering diberitakan di televisi. Muslim adalah pelaku bom bunuh diri, teroris. Itu semua memberi kesan bahwa Islam adalah agama yang bermasalah.

Namun, setibanya saya di Kairo, saya menemukan betapa indahnya Islam. Umat Muslim terlihat sederhana. Mereka segera meninggalkan dagangan mereka saat mendengar azan, memenuhi seruan untuk beribadadah dan menuju masjid.

Mereka memiliki keimanan yang kuat terhadap Tuhannya. Dalam doanya, mereka meminta agar bisa menjadi penolong bagi sesama manusia. Di dunia, mereka memiliki harapan yang sangat besar untuk dapat melakukan perjalanan suci ke Makkah dan diakhirat nanti mendapat balasan hidup di surga.

Sekembalinya saya ke Inggris, saya pun kembali melakukan pekerjaan lama saya mengajar pendidikan agama. Studi keagamaan adalah satu-satunya pendidikan wajib dalam pendidikan di Inggris.

Tidak hanya Kristen, setiap hari saya harus mengajarkan tentang Yahudi, Buddha, Islam kepada siswa-siswa. Kebetulan lagi, kebanyakan siswa saya adalah pendatang Muslim dari Arab. Mengajar tentang Islam pun membuat ilmu saya tentang agama itu semakin bertambah.

Tidak seperti kebanyakan siswa remaja yang suka bermasalah, siswa Muslim banyak menunjukkan dan memberi potret yang Muslim yang baik. Mereka sangat sopan. Hubungan persahabatan antara saya dan mereka pun berjalan dengan baik dan indah.

Saya pun mengizinkan mereka menggunakan kamar saya untuk melaksanakan shalat selama bulan Ramadhan. Selama satu bulan penuh saya mendapat kesempatan untuk memperhatikan mereka beribadah. Meskipun saya bukanlah seorang Muslim tapi saya mendorong mereka untuk melaksanakan puasa penuh selama ramadhan.

Dalam satu kesempatan saat mengajar, saya membacakan terjemahan salah satu ayat di dalam Alquran. Quran, 5:83, berbunyi, ‘Dan apabila mereka (orang Nasrani itu) mendengar apa (Alquran) yang diturunkan kepada rasul (Muhammad saw), kamu melihat air mata mereka mengalir disebabkan sebahagian daripada kebenaran yang telah mereka ketahui,’.

Setelah membaca ayat tersebut, saya terkejut karena tanpa terasa air mata saya mulai berlinang.

Kemudian, titik balik dalam hidup saya terjadi setelah serangan 9/11 yang terjadi di Amerika Serikat. Saya heran mengapa Islam yang menjadi korban atas serangan teroris itu. Dalam seketika, semua orang di Inggris takut dengan agama Islam.

Namun, pengalaman saya dengan Muslim sebelumnya membuat saya berpikir dengan cara yang berbeda. Mengapa mereka tidak menuduhkan hal yang sama ketika orang Kristen melakukan tindakan teroris seperti itu?

Suatu hari saya berkunjung ke salah satu masjid terbesar di London. Disana saya bertemu dengan Yusuf Islam, seorang mantan penyanyi pop.

Saya pun bertanya kepadanya tentang bagaimana menjadi seorang Muslim. Yusuf Islam menjawab bahwa seorang Muslim harus percaya pada satu Tuhan, melakukan shalat lima waktu, dan berpuasa di bulan Ramadhan.

Saya mengatakan, kepada Yusuf Islam bahwa saya percaya pada satu Tuhan dan saya juga berpuasa. Tapi saya belum ada niatan untuk berpindah agama.

Saat sedang berbincang, azan pun berkumandang dan Yusuf Islam pamit untuk melaksanakan shalat. Seketika saya menangis saat melihat mereka shalat.

Usai mereka shalat, saya langsung menemui Yusuf Islam dan memintanya menuntun saya untuk membacakan kalimat syahadat. ‘Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad (saw) adalah utusan Allah.’

Sejak saat itu, hidup saya berubah. Saya pindah ke Mesir dan mulai menulis buku tentang Islam. Melalui buku, saya mencoba menjelaskan kepada non-Muslim tentang prinsip-prinsip dasar Islam.” (bar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *