Bermula Dari Bahasa Arab, Pria Ini Mendapat Hidayah

Syariahcenter.com – Entah apa yang ada di benak Tory Glenn, sehingga ia tiba-tiba merasa tertarik untuk belajar bahasa Arab sekitar tujuh tahun yang silam. Padahal, ketika itu, ia sama sekali tidak menaruh minat terhadap Islam, meskipun bahasa yang ia pelajari itu kerap diidentikkan dengan agama samawi tersebut.

Apalagi sampai berpikiran untuk berpindah keyakinan menjadi Muslim, sama sekali tidak terlintas di dalam pikirannya pada waktu itu. “Pada awalnya, saya belajar bahasa Arab hanya karena didorong oleh rasa ingin tahu yang besar,” tutur Glenn membuka kisah petualangan ruhaninya, seperti dikutip laman I found Islam.

Glenn dibesarkan sebagai penganut Kristen sejak lahirnya. Kendati demikian, ia tidak pernah merasakan hubungan spritual yang benar-benar spesial dengan agama trinitas tersebut. “Di mata saya, doktrin Kristen tak ubahnya seperti dongeng. Sulit untuk mencernanya sebagai sebuah kebenaran,” imbuh Glenn.

Keimanan Glenn terhadap Kristen mulai luntur sejak ia menyadari begitu banyak kejanggalan dalam ajaran agama tersebut. Dia merasa bahwa Yesus Kristus—yang sebelumnya ia anggap sebagai tuhan—tega membiarkan dirinya telantar berulang kali. Pernah ia menghadapi musibah yang luar biasa dalam hidupnya, namun pertolongan Yesus tak kunjung datang menghampirinya.

“Padahal, di dalam Bibel telah dijanjikan bahwa tuhan tidak akan pernah membiarkan umatnya berada dalam bahaya. Sayangnya, janji itu justru dikhianati oleh tuhan sendiri ketika sesuatu yang buruk menimpa saya,” ujarnya.

Ketika mempelajari bahasa Arab, salah satu ungkapan pertama yang dikenali Glen adalah alhamdulillah, yang berarti ‘segala puji bagi Allah’. Awalnya, ia tidak begitu memahami arti ungkapan tersebut secara harfiah. Akan tetapi, dalam penggunaannya, ia menemukan banyak sekali orang Islam yang mengucapkan kata-kata tersebut dalam keseharian mereka.

Pernah satu kali Glenn menemukan seorang Muslim menanyakan kabar Muslim lainnya. Yang ditanya lalu menjawab, “Alhamdulillah, saya merasa kurang sehat hari ini.” Bagi Glenn, jawaban semacam itu tidaklah masuk akal.

Dia pun jadi bertanya-tanya mengapa umat Islam tetap memuji Tuhan mereka, bahkan ketika sesuatu yang buruk terjadi dalam kehidupan mereka. Belakangan, barulah ia mengetahui bahwa semua ungkapan itu ada hubungannya dengan konsep keimanan seorang Muslim dalam menghadapi takdir.

“Menurut ajaran Islam, sesuatu yang baik ataupun buruk tidak mungkin terjadi tanpa seizin Allah. Semuanya berlaku atas kehendak Allah. Dari poin inilah saya menjadi tertarik untuk mempelajari Islam,” ungkap pria asal AS itu lagi.

Sejak itu, Glenn pun mulai sering menggunakan ungkapan alhamdulillah dalam berbagai kesempatan. Bahkan ketika dalam kondisi buruk sekalipun, kata-kata tersebut tetap terlontar dari bibirnya.

“Entah mengapa, setiap kali saya mengucapkan alhamdulillah, saya selalu merasa lebih baik,” akunya.

Sejak merasakan manfaat dari ucapan hamdalah, Glenn kian tertarik untuk menggali ajaran Islam lebih banyak lagi. Dalam pikirannya ketika itu, jika satu ungkapan seperti alhamdulillah saja mampu membuat batinnya merasa tenang, bagaimana pula halnya dengan ungkapan-ungkapan Islami lainnya? Tentu akan lebih besar lagi dampaknya.

Atas dasar pemikiran itulah, Glenn akhirnya mulai membaca Alquran dan belajar lebih banyak lagi tentang Islam. Ada semacam perasaan damai dan tenteram yang diperolehnya ketika membaca Alquran. Ia pun mengaku merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta ketika menyelami makna ayat-ayat kitab suci tersebut.

Tidak cukup sampai itu, Glenn kemudian juga menjalin hubungan pertemanan dengan banyak kalangan Muslim di laman media sosial Facebook. “Dan alhamdulillah, teman-teman Muslim saya di Facebook sangat membantu dan selalu mendukung saya mempelajari Islam. Mereka menjawab berbagai pertanyaan yang mengganjal di pikiran saya dengan sangat baik,” tuturnya.

Pada satu kesempatan, melalui aplikasi chatting Facebook, Glenn mengutarakan niatnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat kepada salah seorang temannya yang merupakan Muslim asal Mesir. Setelah mengungkapkan keinginan tersebut, ada keheningan yang panjang dalam obrolan mereka. Glenn pun lalu bertanya kepada teman Mesirnya itu, apakah ada yang salah dengan niatnya tersebut.

“Teman saya itu hanya menjawab, ‘Sama sekali tidak. Saya sekarang hanya bisa menangis karena terharu’. Percakapan kami itu terjadi sekitar Oktober 2009,” ujar Glenn.

Empat bulan kemudian, tepatnya pada Februari 2010, Glenn mengunjungi teman chatting-nya itu di Kairo. Keduanya lalu pergi ke al-Azhar. Di sanalah Glenn akhirnya mengikrarkan dua kalimat syahadat dan menjadi Muslim.

Sejak memperoleh hidayah Islam, Glenn seakan-akan menemukan sebuah telaga air yang menyejukkan dahaga spiritulanya selama ini. Ia merasa seolah-olah terlahir kembali menjadi kepribadian yang benar-benar baru.

“Saya tidak akan pernah menyesali keputusan saya tersebut. Sampai sekarang, saya sudah terbiasa memuji Allah SWT dengan mengucapkan alhamdulillah. Baik dalam keadaan susah maupun senang, mendung maupun cerah,” tutur pria paruh baya itu lagi. (bar)

(Visited 194 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *