Maria Anastasia Dwi Eni Widyastuti ketika berdakwah.

Kisah Menarik Bersyahadatnya Mantan Suster Katolik Di Yogyakarta

Syariahcenter.com – Maria Anastasia Dwi Eni Widyastuti bukan nama baru bagi keluarga mualaf Yogyakarta. Perempuan yang lahir tepat pada Hari Natal, 25 Desember 1962 ini adalah mantan biarawati atau aktivis gereja.

Ia menganut Katolik Roma. Sejak kecil, ia telah bergabung dengan Legio Maria di gereja. Ketaatan itu juga tidak lepas dari peran keluarga besar.

Sejak generasi kakek-nenek, keluarganya telah menganut Katolik. Ayah Maria aktivis gereja yang bertugas menggantikan pastur pada acara sembahyang di gereja saat pastur berhalangan.

Maria pernah berkeras menjadi suster menjelang lulus Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Ia ingin total mengabdikan diri untuk Tuhan.

Namun, keinginan itu ditolak keluarga. Ada satu alasan yang membuat Maria berkeras menjadi suster. Menjelang akhir masa sekolahnya di SPG Pangudi Luhur, Maria merasakan ketakutan yang amat sangat dengan kematian.

“Saya terusik dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan setelah kematian,” tuturnya. Maria telah berdiskusi dengan para bruder dan guru di sekolahnya, tetapi hasilnya nihil.

Perjalanan hidayah bermula saat Maria duduk di tingkat pertama bangku kuliah IKIP Sanata Dharma. Ia bertandang ke rumah seorang kawan Muslim.

Di sana, Allah menggerakkan tangannya untuk meminjam satu dari dua buku yang tergeletak di kamar. Buku yang satu itu dibawanya pulang tanpa lebih dulu dibuka apa judulnya. Semua terjadi tanpa sengaja.

Begitu sampai di rumah, alangkah terkejut Maria. Apa pasal? Ternyata buku itu ‘Mengapa Saya Masuk Islam’ karya Eddy Crayn Hendrik, seorang Protestan yang mendapat hidayah masuk Islam.

Perempuan itu sempat berburuk sangka. Mungkinkah temannya sengaja memilihkan judul buku tersebut?

Maria tak tahu hendak diapakan buku itu. Ia takut orang tuanya akan marah kalau tahu dia menyimpan buku semacam itu. Tiga bulan kemudian, rasa penasaran menggerakkan tangannya untuk menelisik isi buku tersebut.

Ternyata isi buku itu membuat dia marah. Ia merasa ketuhanan Yesus dilecehkan. Namun, kemarahan itu lantas menggerakkan Maria untuk mencermati Injil.

Seperti Eddy Crayn Hendrik, dia mulai menekuni ayat demi ayat Alkitab. Tak butuh waktu lama, bab pertama saja ternyata sudah membuat dia pusing. Maria menemukan inkonsistensi, polemik soal ketuhanan Yesus dan kontradiksi bahasa Alkitab.

Semua itu terus-menerus membuatnya berpikir, mengapa Tuhan bisa mati di tiang salib? Mengapa Dia tidak melawan, sedang Dia Mahasegala? Dialog dengan pastur, suster, juga teman-temannya sesama aktivis gereja tak membuat batin Maria tenang.

Kegelisahan itu tidak serta-merta membawanya kepada Islam. Kebencian Maria belum pupus.

Ia melirik Protestan, tetapi ternyata Protestan tak jauh berbeda dengan Katolik yang dia sangkal. Ia pun beralih mempelajari Buddha. Di sini, pertanyaannya tetap tak terjawab. Beralih ke agama Hindu, ia tidak jua puas.

Aliran kebatinan yang sudah dua setengah tahun dipelajarinya juga tak menjawab kegundahan Maria.
Tinggal satu agama yang belum dia coba: Islam. “Ah, apalagi Islam,” pikir Maria awalnya.

Namun, ia merasa tidak adil bila memvonis tanpa mempelajari, apalagi semua agama lain sudah dia pelajari.
Maria lalu nekat mencari Alquran di Shopping Centre Yogyakarta. Para pemilik kios menyodorkan beberapa Alquran, tetapi tidak ada Alquran yang dia kehendaki.

Maria ingin Alquran terjemahan yang tidak memakai tulisan Arab, yang hanya bahasa Indonesia saja.
Dia keliling ke semua kios. Hasilnya nihil.

Ketika ia hendak meninggalkan tempat itu, seorang bapak melambaikan tangan. “Mbak, tadi cari Alquran terjemah yang tidak ada Arabnya?”

“Iya, Pak,” jawab Maria lekas.

“Mbak agamanya apa?” tanya bapak penjaga buku, menetak hatinya.

Mendengar pertanyaan itu, Maria seketika waswas. Dia takut. Waswas, dia mengaku seorang Katolik. Lelaki penjaga kios itu langsung paham. Dengan senyum ramah, dia jelaskan kalau tidak ada Alquran terjemahan tanpa tulisan Arab.

Lantas, mengapa harus ada tulisan Arab nya? Tujuannya supaya kalau ada ke salahan, bisa langsung dilacak dalam bahasa aslinya.

Arab adalah bahasa asli Alquran. Penjelasan itu terngiang-ngiang di benak Maria. Alangkah berbeda dengan Alkitab. Maria membeli satu Alquran terjemahan dan mulai mempelajari. Hatinya bergolak setiap kali membaca kitab suci itu.

Sejak itu, dia mulai sering pergi mencari buku-buku keislaman. Ia juga melakukan pengamatan pada aktivitas ibadah Muslim. Ia juga mencoba bertanya pada seorang teman Muslim sembari masih menyembunyikan kecenderungan yang sebenarnya.

Kini, Maria mendapat jawaban tentang “kematian” yang dulu pernah menggelisahkan hatinya. “Pertanyaan saya tentang kematian terjawab. Manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hari akhir atas semua perbuatan yang dia lakukan,” kata dia.

Secara teologi, Maria merasa mantap. Namun, perempuan itu mengalami dilema. Ia tidak bisa membayangkan reaksi teman dan keluarga. Dalam kebimbangan, ia hanya bisa pasrah dan berdoa memohon kemantapan hati.

Hingga suatu malam, 23 tahun setelah Maria terlahir ke dunia, ia mempersaksikan syahadat. Waktu itu tepat 13 September 1985. Maria merasakan ketenangan dan ketenteraman. Ia bagai musafir yang menemukan oase di tengah padang pasir.

Mulanya, keimanan itu dia rahasiakan. Maria shalat sembunyi-sembunyi di kamar dengan pintu terkunci dan lampu dimatikan. Tiga bulan berlalu, rupanya Tuhan berkehendak lain.

Siang itu, rumah kosong. Semua anggota keluarga pergi. Merasa aman, Maria shalat Zhuhur tanpa menutup pintu kamar. Tak dinyana, adiknya pulang lebih awal. Ia menjerit melihat sosok putih-putih di kamar Maria.

Setelah diseksamai, tahulah sang adik bahwa itu kakaknya berbalut mukena. Hati Maria berdebar. Dia ancam adiknya supaya tak melapor. Namun, usaha itu sia-sia. Sang adik tetap melapor. Ia pun disidang saat makan malam. Maria disuruh memilih, keluarga atau Islam.

“Memang saya mencintai keluarga, tetapi izinkan saya memeluk Islam. Agama yang saya yakini kebenarannya,” kata Maria dengan hati berat. Ucapan itu membuat keluarganya marah besar. Singkat cerita, ia menjadi anak terbuang. Maria harus Dokumentasi Pribadi “Pertanyaan saya tentang kematian terjawab. Manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hari akhir atas semua perbuatan yang dia lakukan”.

Pertolongan Di tengah impitan permasalahan, Maria mendapatkan banyak pertolongan. Maria pertama kali menyatakan keislaman di muka publik pada Idul Adha. Ia memberanikan diri datang ke lapangan untuk shalat Id.

Banyak yang terkejut melihat kehadirannya. Untungnya, kemu dian ada seorang ibu yang merangkulnya dan meredakan kecurigaan orang-orang. Ia menyatakan, Maria benar-benar sudah memeluk Islam. Itulah pertama kalinya Maria bisa berkumpul dengan saudara- saudara seiman.

Ia dipertemukan dengan saudara-saudara dari pengurus ranting Aisyiyah, Corps Dakwah Pedesaan, Majelis Muhtadin, dan sebagainya. Ketika kuliahnya selesai, ia juga dibantu mencari pekerjaan. Ia diminta mengajar di sebuah SMEA Muhammadiyah di Yogyakarta.

Di lingkaran itu pula Maria dipertemukan dengan seorang lelaki Muslim yang kini menjadi suaminya. Berbekal ke yakinan akan rezeki Allah, mereka menikah dalam kondisi seadanya pada zaman itu.

Kendati Maria selalu berusaha bersikap baik, perjuangannya untuk diterima kembali di tengah keluarga besar tidak mudah. Pada 1998, barulah sang ibunda bisa menerima Maria lagi. Saudara- saudara nya yang lain bahkan baru mengakui nya sekitar tiga tahun terakhir.

“Itu ujian yang paling berat, apalagi sampai sekarang belum ada satu pun dari mereka yang diberi hidayah Allah,” kisah anak kedua dari enam bersaudara itu.

Seolah hendak menebus dosa-dosa di masa silam, kini Maria aktif membina jamaah pengajian di rumahnya. Ia ju ga membantu layanan keumatan dan pendampingan ke daerah-daerah yang terkena pemurtadan. Aktivitas itu didukung penuh oleh sang suami. (zae/republika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *